Pendahuluan: Kombinasi gejala PPOK berat dan gangguan kecemasan dapat
memperburuk kualitas hidup melalui sesak napas yang memicu kecemasan, sementara
kecemasan memperkuat persepsi sesak, menurunkan aktivitas fisik, dan meningkatkan
isolasi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kecemasan dan
derajat obstruksi dengan kualitas hidup pasien PPOK di RS Universitas Sebelas Maret.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross
sectional menggunakan alat ukur Hospital Anxiety and Depression Scale – Anxiety (HADS-A) untuk kecemasan, COPD Assesment Test (CAT) untuk kualitas hidup, dan rekam medis
FEV1 untuk derajat obstruksi. Populasi yang diambil adalah pasien PPOK stabil yang
berkunjung ke Poliklinik Paru RS UNS selama periode November – Desember 2025.
Teknik sampling penelitian menggunakan purposive sampling. Jumlah sampel 52 pasien
dihitung dengan rumus Lameshow. Teknik analisis data dilakukan dengan analisis univariat
(frekuensi dan persentase) dan bivariat chi-square.
Hasil: Distribusi tingkat kecemasan menurut HADS-A adalah normal 22 (42,3%), cemas
ringan 14 (26,9%), cemas sedang 9 (17,3%), dan cemas berat 7 (13,5%). Distribusi kualitas
hidup menurut CAT adalah: ringan 3 (5,8%), sedang 26 (44,2%), berat 17 (32,7%), dan
sangat berat 9 (17,3%). Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dan
kualitas hidup (p = 0,009), sedangkan tidak ditemukan hubungan signifikan antara derajat
obstruksi dan kualitas hidup (p = 0,972).
Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara tingkat kecemasan dengan kualitas
hidup pasien PPOK. Tidak terdapat hubungan signifikan antara derajat obstruksi dengan
kualitas hidup pasien PPOK.