Selama masa pendudukannya di Indonesia, Jepang menggunakan berbagai
jenis media sebagai alat propaganda untuk menarik dukungan masyarakat. Namun,
meskipun media tersebut sangat beragam, penelitian yang secara khusus
menganalisis isi propaganda dalam majalah masih tergolong minim. Penelitian ini
bertujuan pertama untuk mengetahui kronologi kedatangan Jepang ke Indonesia.
Kedua, mengkaji bagaimana pesan-pesan propaganda politik Jepang disampaikan
melalui media berupa majalah Fajar Asia. Ketiga, mengetahui simbol pribumi di
Majalah Fajar Asia yang dimanfaatkan untuk memobilisasi masyarakat.
Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari lima tahapan:
pemilihan topik, heuristik (pengumpulan sumber), kritik sumber (verifikasi),
interpretasi, dan historiografi. Dengan memanfaatkan majalah sebagai sumber
utama, yaitu majalah Fajar Asia yang terbit tahun 1943-1944. Penelusuran arsip
diperkuat dengan penggunaan literatur sekunder berupa kanpo, buku, dan jurnal
ilmiah. Analisis kritis dilakukan secara objektif untuk melihat adanya propaganda
yang dibangun dalam teks majalah. Historiografi menjadi tahap akhir berupa
penyusunan yang memaparkan hasil analisis secara naratif dan sistematis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa invasi Jepang ke Indonesia pada tahun
1942 berlangsung secara cepat yang diikuti dengan penyebaran ideologi
Lingkungan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Dalam proses tersebut,
majalah Fajar Asia digunakan sebagai media propaganda yang memuat pesan-pesan
politik Jepang melalui slogan, gambar, serta bahasa yang bersifat persuasif dan anti
Barat. Propaganda ini juga dilakukan melalui pendekatan budaya dengan
memanfaatkan simbol-simbol pribumi, seperti penggunaan bahasa Indonesia,
kesenian, tokoh nasional, serta keterlibatan penulis pribumi.
Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa majalah Fajar Asia berperan
sebagai alat propaganda yang efektif dalam membentuk opini masyarakat dan
menutupi realitas eksploitasi perang Jepang. Melalui pendekatan budaya, majalah
ini mampu memengaruhi masyarakat untuk mendukung agenda Jepang. Dengan
adanya penggunaan simbol-simbol pribumi menimbulkan dampak lain, yaitu
tumbuhnya kesadaran nasionalisme dan solidaritas di kalangan intelektual serta
masyarakat Indonesia.