Program Bina
Keluarga Remaja (BKR) yang dijalankan oleh BKKBN merupakan salah satu upaya
strategis dalam memperkuat peran keluarga, khususnya orang tua, dalam
mendampingi perkembangan remaja serta mencegah munculnya perilaku berisiko.
Perilaku berisiko pada remaja seperti penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas,
dan berbagai bentuk kenakalan remaja menjadi persoalan sosial yang memerlukan
pendekatan komunikasi yang terencana dan sistematis. Penelitian ini
menganalisis strategi komunikasi program BKR dalam mencegah perilaku berisiko
pada remaja dengan menggunakan Public Communication Campaign Theory dari Rice dan
Atkin yang menekankan segmentasi audiens, perumusan pesan, pemilihan media, dan
evaluasi dampak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif.
Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan dokumentasi dengan informan yang
dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan data dianalisis melalui
reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian
menunjukkan beberapa temuan. Pertama, strategi komunikasi program BKR
menetapkan orang tua sebagai sasaran langsung komunikasi, sedangkan kader,
pendidik, dan tokoh masyarakat berperan sebagai sasaran tidak langsung yang
membantu penyebaran pesan di lingkungan komunitas. Kedua, pesan
komunikasi yang disampaikan berfokus pada penguatan peran orang tua dalam
pengasuhan dan pendampingan remaja untuk mencegah perilaku berisiko. Ketiga,
penyampaian pesan dilakukan melalui kombinasi media digital dan komunikasi
tatap muka agar informasi lebih mudah diterima oleh sasaran program. Keempat,
evaluasi program dilakukan melalui pengukuran pre-test dan post-test serta
penilaian indeks ketahanan remaja untuk melihat efektivitas komunikasi program.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan indikator kinerja setiap tahun
yang menandakan keberhasilan program dalam memperkuat kapasitas komunikasi
orang tua dan mendukung peningkatan ketahanan remaja.