Beton merupakan salah satu material konstruksi yang dikenal
memiliki kuat tekan tinggi. Namun, dibalik kelebihan itu beton bersifat getas
sehingga kemampuannya menahan gaya tarik relatif rendah dan mudah mengalami
retak. Salah satu upaya mengatasi permasalahan tersebut dengan menambahkan
serat roving untuk meningkatkan kuat tarik beton dan abu sekam padi
sebagai bahan pozzolan ramah lingkungan pengganti sebagian semen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
pengaruh serat roving dan abu sekam padi yang diaktivasi nano-activator
terhadap kuat tarik belah serta pola retak beton. Penelitian ini menggunakan
metode eksperimen kuantitatif yang mengacu pada SNI 7656:2012. Inovasi campuran
beton berupa penambahan serat roving sebesar 0,85% dari cementitious
serta abu sekam padi yang diaktivasi nano-activator dengan variasi 8%,
10%, dan 12% dari berat semen sebagai variabel bebas. Beton normal tanpa
penambahan serat roving dan abu sekam padi (0%) digunakan sebagai
variabel kontrol, sedangkan kuat tarik belah beton menjadi variabel terikat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan serat roving dan abu sekam
padi memberikan pengaruh terhadap peningkatan kuat tarik belah beton. Nilai
kuat tarik belah optimum diperoleh pada variasi V2 dengan komposisi serat roving
0,85% dan abu sekam padi 8%, yaitu sebesar 2,45 MPa pada umur 28 hari dan 2,90
MPa pada umur 56 hari. Analisis regresi menghasilkan persamaan y = -0,02x² -
0,0078x + 2,4864 (R² = 0,8768) pada umur 28 hari dan y = -0,2488x² + 1,2027x +
1,1777 (R² = 0,542) pada umur 56 hari. Berdasarkan identifikasi pola retak
menurut SNI 1974:2011, seluruh variasi didominasi oleh pola kehancuran kolumnar
(Tipe 5), dengan beton inovasi menunjukkan retak yang lebih terkendali
dibandingkan beton normal. Hal ini menunjukkan bahwa serat roving mampu
menghambat perambatan retak, sedangkan abu sekam padi teraktivasi nano-activator
memperbaiki mikro struktur beton, sehingga kombinasi keduanya efektif
meningkatkan kuat tarik belah dan kualitas beton.