Pengadaan bahan baku merupakan aktivitas krusial dalam manajemen rantai pasok
guna meminimalkan risiko kecacatan produksi dan menjaga efisiensi biaya
operasional. Masalah utama yang dihadapi oleh Nusantara Batik Art adalah
inkonsistensi kualitas material dari supplier eksisting, yang telah memicu lima
insiden cacat produksi berskala besar sepanjang tahun 2025 dengan total akumulasi
material terbuang (waste) mencapai hampir 900 meter kain batik. Penelitian ini
bertujuan untuk merancang model pemilihan supplier yang objektif dan terintegrasi
untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Ruang lingkup penelitian difokuskan
pada evaluasi kelompok supplier utama penyedia Kain Prima, Kain Primisima, dan
Kain Rayon. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah integrasi Fuzzy
Analytical Hierarchy Process (FAHP) dan Fuzzy Data Envelopment Analysis
(FDEA). FAHP digunakan untuk menentukan bobot prioritas dari 14 kriteria
evaluasi berdasarkan penilaian subjektif tiga pakar internal perusahaan.
Selanjutnya, efisiensi relatif masing-masing supplier sebagai Decision Making Unit
(DMU) diukur menggunakan pemodelan FDEA Charnes, Cooper, and Rhodes
(CCR) Input-Oriented yang diselesaikan menggunakan perangkat lunak LINGO
18.0. Analisis Super-Efficiency diaplikasikan secara kondisional pada tingkat
kepastian penuh (α = 1) guna memecah nilai efisiensi yang seri dan menghasilkan
peringkat mutlak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat kriteria
utama, aspek Kualitas menjadi prioritas tertinggi dengan bobot 0,328. Pada tingkat
subkriteria global, Harga Kain (0,214) dan Tingkat Cacat Kain (0,117)
mendominasi sebagai parameter paling krusial. Berdasarkan pengolahan model
FDEA Super-Efficiency, diperoleh pemeringkatan mutlak di mana Bimo Kunting
menempati peringkat pertama pada pengadaan Kain Prima dengan skor efisiensi
2,714. Sementara itu, Kusuma Mulia menunjukkan keunggulan absolut dengan
mendominasi peringkat utama untuk kategori Kain Primisima (skor 2,385) dan
Kain Rayon (skor masif sebesar 4,714). Kesimpulan utama dari penelitian ini
adalah model integrasi FAHP dan FDEA terbukti mampu meminimalkan
ambiguitas penilaian kualitatif serta menghasilkan pemeringkatan supplier yang
terukur secara matematis. Saran yang diajukan bagi manajemen Nusantara Batik
Art adalah menerapkan strategi alokasi pemesanan kepada supplier peringkat
tertinggi pada setiap kategori kain sebelum siklus produksi dimulai, serta
menjadikan indikator harga dan tingkat cacat kain sebagai tolak ukur utama dalam
mengevaluasi penawaran pra-produksi.