Remaja penyandang disabilitas fisik menghadapi tantangan perkembangan yang lebih kompleks dibandingkan remaja tanpa disabilitas, meliputi keterbatasan fisik, diskriminasi, dan sitgma sosial yang dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis. Kondisi kesejahteraan psikologis remaja penyandang disabilitas fisik di SLB “W” juga belum sepenuhnya stabil karena masih dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Oleh karena itu, diperlukan intervensi untuk mendukung kesejahteraan psikologis kelompok ini. Penelitian ini merupakan tahap implementasi lanjutan program MBKM Riset Fakultas Psikologi Universitas Sebelas Maret yang menghasilkan Modul Pelatihan “Aku Sejahtera” dan bertujuan untuk menguji pengaruhnya terhadap kesejahteraan psikologis remaja penyandang disabilitas fisik di SLB “W”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen-kuasi dan desain untreated control group design with dependent pretest and posttest samples. Subjek penelitian berjumlah 10 remaja penyandang disabilitas fisik berusia 10–21 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan dibagi sama rata ke dalam kelompok eksperimen dan kontrol. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Skala Kesejahteraan Psikologis (α=0,861) dan dianalisis dengan uji nonparametrik Mann-Whitney. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antara gain score pada kedua kelompok (p>0,05) sehingga Pelatihan “Aku Sejahtera” tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap kesejahteraan psikologis remaja penyandang disabilitas fisik di SLB “W”. Meskipun demikian, kelompok eksperimen menunjukkan peningkatan gain score yang lebih tinggi secara deskriptif dibandingkan kelompok kontrol. Hasil yang tidak signifikan ini dipengaruhi oleh durasi pelatihan yang singkat, keterbatasan kemampuan kognitif peserta, dan distraksi selama pelatihan. Maka, Pelatihan “Aku Sejahtera” perlu dikembangkan lebih lanjut melalui penyesuaian durasi dan metode dengan karakteristik peserta karena masih menunjukkan potensi dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis remaja penyandang disabilitas fisik.