Kampung Wisata Batik Kauman dan Kampoeng Batik
Laweyan merupakan dua kampung wisata di Kota Surakarta yang sama-sama mengusung
batik sebagai daya tarik utama, namun tumbuh dari akar sejarah dan dinamika
sosial yang berbeda sehingga berpotensi membentuk pola keterlibatan masyarakat
yang tidak seragam. Perbedaan ini memungkinkan adanya perbedaan karakteristik
penerapan Community-Based Tourism (CBT) pada kedua kawasan, baik dari sisi
kelembagaan, kesiapan fisik kawasan, maupun manfaat ekonomi yang dirasakan oleh
masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan membandingkan
karakteristik penerapan CBT pada kedua kampung wisata tersebut. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kuantitatif dengan instrumen skala Likert kepada 105
responden pelaku CBT, yang diukur melalui lima aspek yaitu Atraksi, Fasilitas
Penunjang, Aksesibilitas, Dukungan Kebijakan dan Kelembagaan, serta Manfaat
Ekonomi. Analisis dilakukan menggunakan Hierarchical Cluster Analysis dan
K-Means Cluster Analysis untuk mengidentifikasi kelompok karakteristik CBT,
dilanjutkan dengan analisis distribusi frekuensi untuk meninjau persebaran
serta dominasi klaster pada masing-masing kampung. Hasil penelitian menunjukkan
tiga kecenderungan penerapan CBT, yaitu Klaster 1 (CBT Berbasis Kelembagaan
Pendukung Ekonomi dan Atraksi), Klaster 2 (CBT Berbasis Fisik Kawasan Pendukung
Atraksi), dan Klaster 3 (CBT Berbasis Dependent Ekonomi yang Memanfaatkan
Fasilitas Kawasan). Kampung Wisata Batik Kauman didominasi oleh Klaster 1 (50%)
yang mencerminkan kuatnya peran kelembagaan dalam pengelolaan kawasan,
sementara Kampoeng Batik Laweyan didominasi oleh Klaster 3 (44,4%) yang
mencerminkan aktivitas ekonomi yang berkembang lebih dominan dibanding kesiapan
kelembagaannya. Perbedaan proporsi klaster ini menunjukkan bahwa pola CBT
terbentuk dari cara keterlibatan masyarakat yang berbeda, bukan untuk
menyatakan mana kampung yang lebih berhasil menerapkan konsep CBT. Temuan ini
juga menegaskan bahwa status sebagai kampung wisata belum tentu diikuti oleh
kesiapan yang merata pada seluruh aspek CBT. Penelitian ini merekomendasikan
agar program pengembangan kampung wisata oleh pemerintah maupun kelembagaan
lokal diarahkan sesuai dengan karakteristik khusus masing-masing kawasan,
termasuk mempertimbangkan pola sebaran spasial klaster di tiap kawasan,
sehingga intervensi kebijakan yang diberikan dapat lebih tepat sasaran.