Potensi pertanian di Indonesia, khususnya singkong,
belum sepenuhnya memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat karena
sebagian besar masih dijual dalam bentuk mentah dengan harga relatif rendah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Karanganyar (2025), Kecamatan
Jatipuro menempati posisi kedua sebagai penghasil singkong terbesar dengan
produksi mencapai 14.377 ton pada tahun 2023 dan luas tanam sebesar 325,6
hektar. Desa Jatimulyo, Kecamatan Jatipuro, Kabupaten Karanganyar merupakan salah
satu wilayah yang memiliki potensi singkong cukup melimpah. Potensi tersebut
dimanfaatkan oleh Kelompok Wanita Tani Makmur melalui pengembangan usaha tepung
mocaf sebagai bentuk pemberdayaan perempuan berbasis potensi lokal.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses
pemberdayaan anggota, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat, serta
mengidentifikasi hasil dan dampak pemberdayaan melalui usaha tepung mocaf oleh
Kelompok Wanita Tani (KWT) Makmur di Desa Jatimulyo, Kecamatan Jatipuro,
Kabupaten Karanganyar. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan
pendekatan deskriptif. Penentuan informan dilakukan secara purposive
sampling dan snowball sampling dengan total 8 informan. Teknik
pengumpulan data meliputi wawancara mendalam (indepth intervew),
observasi, dan dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan model Miles dan
Huberman yang terdiri dari reduksi data, pengkajian data, dan penarikan
kesimpulan. Validitas data diuji melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pemberdayaan
berlangsung melalui tiga tahapan, yaitu enabling, empowering, dan
protecting. Tahap enabling menumbuhkan kesadaran anggota terhadap
potensi singkong menjadi produk bernilai tambah. Tahap empowering
meningkatkan kapasitas teknis, manajerial, dan sosial anggota melalui pelatihan
dan praktik langsung. Tahap protecting memberikan perlindungan melalui
sistem kerja yang adil dan dukungan sosial untuk menjaga keberlanjutan usaha. Penelitian
ini juga menemukan adanya penguatan modal sosial dan proses social learning
dalam kelompok. Modal sosial terlihat melalui jaringan (network) kerja
sama dengan pemerintah desa, penyuluh, dan mitra usaha, adanya rasa saling
percaya (trust) antaranggota, serta norma (norm) gotong royong
dan pembagian tugas yang mendukung keberlangsungan kegiatan kelompok. Sementara
itu, proses social learning terlihat dari adanya proses belajar bersama
melalui pengamatan (attention), praktik langsung (reproduction),
berbagi pengalaman (retention), hingga penerapan keterampilan produksi
mocaf secara mandiri oleh anggota (reinforcement). Penguatan modal
sosial dan pembelajaran sosial tersebut menjadi faktor penting dalam
meningkatkan partisipasi, kapasitas, dan kemandirian anggota KWT Makmur. Faktor pendukung meliputi motivasi dan solidaritas anggota, dukungan
pemerintah desa, peran penyuluh, serta ketersediaan bahan baku. Faktor
penghambat meliputi keterbatasan akses pasar, teknologi produksi yang masih
sederhana, dan kondisi cuaca. Pemberdayaan menghasilkan peningkatan akses
terhadap sumber daya, partisipasi, kapasitas, dan kemandirian anggota. Dampak
yang ditimbulkan mencakup aspek ekonomi berupa peningkatan pendapatan, aspek
sosial berupa meningkatnya solidaritas dan kepercayaan diri, aspek pendidikan
berupa peningkatan pengetahuan dan keterampilan, serta aspek lingkungan berupa
pemanfaatan sumber daya lokal secara optimal. Secara keseluruhan, pemberdayaan
melalui usaha mocaf berkontribusi positif dalam meningkatkan kesejahteraan dan
kemandirian anggota KWT Makmur.