Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh perbedaan ketinggian tempat pemeliharaan terhadap performa produksi domba ekor tipis (DET) jantan. Penelitian ini dilaksanakan di empat kecamatan di Kabupaten Karanganyar pada bulan Juli–Desember 2025. Sampel penelitian berjumlah 203 ekor berumur 2 bulan->1 tahun (poel 1) diperoleh menggunakan rumus Slovin persentase kelonggaran 7%. Metode penelitian menggunakan metode survei. Peubah yang diamati, yaitu bobot badan (BB), lingkar dada (LD), tinggi badan (TB), panjang badan (PB), danjenis pakan. Analisis statistik menggunakan RStudio dengan uji Independent t-testdan Welch-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan pemeliharaan di dataran tinggi didominasi hijauan, sedangkan di dataran rendah terdapat tambahan leguminosa (ramban), konsentrat dan limbah pertanian, silase, serta pakan tambahan. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perbedaan ketinggian tempat pemeliharaan berpengaruh nyata (P<0>0,05). Secara umum, rata-rata BB, LD, TB, dan PB di dataran tinggi lebih unggul dibandingkan di dataran rendah, kecuali pada variabel LD fase prasapih. Rata-rata ukuran tubuh di dataran rendah pada faseprasapih, pertumbuhan, dan dewasa secara berurutan, yaitu BB (11,98±2,94; 19,89±4,36; 26,99±4,8 kg), LD (50,04±4,45; 55,27±2,74; 59,39±3,16 cm), TB (43,58± 4,08; 51,68±3,91; 56,03±4,52 cm), PB (50,81±4,78; 59,47±5,44; 65,90±4,05 cm). Pemeliharaan di dataran tinggi secara berurutan BB (13,50±3,48; 23,33±3,15; 33,38±3,10 kg), LD (48,20±4,21; 57,71±3,39; 61,10±2,66 cm), TB (44,36±4,43; 54,65±4,12; 58,73±3,42 cm), PB (52,3±4,71; 63,64±4,25; 69,97±3,27cm). Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa performa produksi DET relatif lebih unggul pemeliharaan di dataran tinggi.