Perkembangan
komunikasi teks daring di kalangan Generasi Z menjadikan komunikasi teks daring
sebagai media utama dalam menjalin hubungan interpersonal, khususnya hubungan
romantis. Namun, keterbatasan isyarat nonverbal dalam komunikasi teks
meningkatkan potensi miskomunikasi sehingga gaya komunikasi, cara penyusunan
pesan, serta pemaknaan pesan menjadi aspek yang krusial untuk diteliti.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan gaya komunikasi teks daring Generasi Z dalam hubungan romantis serta
menganalisis cara penyusunan dan pemaknaan pesan yang digunakan dalam interaksi
tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi
kasus, dengan subjek mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret yang
termasuk Generasi Z dan memiliki pengalaman hubungan romantis berbasis
komunikasi teks daring. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan teknik purposive
sampling dan dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Penelitian ini
menggunakan teori gaya komunikasi dari Sendjaja serta teori Message Design Logic dari O’Keefe
sebagai landasan analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga
kecenderungan gaya komunikasi, yaitu equalitarian
style, controlling style, dan withdrawal
style, dengan dominasi equalitarian
style yang menekankan komunikasi dua arah melalui diskusi, keterbukaan, dan
pencarian kesepakatan bersama. Dalam penyusunan pesan ditemukan penggunaan tiga
logika desain pesan, yaitu expressive
logic, conventional logic, dan rhetorical
logic yang digunakan secara fleksibel sesuai konteks dan kondisi emosional.
Selain itu, pemaknaan pesan dipengaruhi oleh keterbatasan komunikasi teks
daring, penggunaan simbol digital, serta ekspektasi individu terhadap respons
pasangan. Pembahasan menunjukkan bahwa keterbatasan komunikasi teks daring, perbedaan
interpretasi pesan, dan ketidaksesuaian ekspektasi menjadi faktor utama terjadinya miskomunikasi dalam hubungan
romantis. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa komunikasi teks daring tidak
hanya berfungsi sebagai media pertukaran pesan, tetapi juga sebagai sarana
untuk membangun dan memaknai hubungan interpersonal melalui penyesuaian gaya
komunikasi, strategi penyusunan pesan, serta ekspektasi yang dimiliki pasangan
dalam hubungan romantis.