Pendahuluan: Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) merupakan gangguan endokrin yang umumnya terjadi pada wanita usia reproduksi (15-49 tahun). Insidensi di seluruh dunia 1,8-15%, sedangkan di Indonesia diperkirakan sekitar 30 kasus per tahun, dengan 4,5% pada wanita usia reproduksi. Menurut Kriteria Rotterdam, diagnosis PCOS ditegakkan dua dari tiga kriteria: (1) oligoovulasia/anovulasi; (2) hiperandrogenisme; dan (3) morfologi ovarium polikistik. Wanita dengan IMT tinggi (≥23 kg/m2) beresiko mengalami hiperinsulinemia, akibatnya hiperandrogenisme mengubah kadar hormon estrogen dan androgen di dalam tubuh, sehingga menyebabkan gangguan ovulasi dan penumpukan folikel di ovarium sebagai tanda dari PCOS. Tujuan dilakukan penelitian untuk mengetahui hubungan antara IMT dengan kejadian PCOS pada wanita usia subur.Metode: Desain penelitian mengguankan case control dengan pendekatan observasional analitik terhadap 46 subjek penelitian yang terbagi menjadi 23 pasien PCOS dan 23 pasien tidak PCOS dari poli fetomaternal yang dirawat di RSUD Dr. Moewardi tahun 2024-2025. Analisis data berupa tabel distribusi frekuensi dan uji Chi Square (p=0,05) dan Odds Ratio (OR) dengan Confidence Interval 95% menggunakan aplikasi SPSS.Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara IMT tinggi (≥23 kg/m2) dengan pasien PCOS. Uji Chi-Square menunjukkan hasil p=0,038 (p < 0,05) dengan hasil OR=0,281 (CI 95% 0,083-0,953) menunjukkan bahwa wanita usia subur yang memiliki IMT beresiko dapat mengalami PCOS 3,56x lebih besar dibandingkan wanita usia subur dengan IMT normal (18,5-22,9 kg/m2).Kesimpulan: Indeks Massa Tubuh (IMT) tinggi (≥23 kg/m2) memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian PCOS pada wanita usia subur (26-30 tahun).