Peningkatan jumlah penduduk yang terus terjadi setiap
tahunnya berbanding lurus dengan meningkatnya volume sampah, di mana sampah
plastik menempati urutan kedua terbanyak dalam komposisi sampah rumah tangga di
Indonesia. Berbagai kebijakan pengurangan sampah plastik telah diterapkan,
termasuk regulasi mengenai pembatasan penggunaan kantong plastik. Namun
demikian, penerapannya dinilai belum massif dan belum menyentuh secara
menyeluruh lingkungan pasar tradisional sebagai salah satu ruang konsumsi
plastik terbesar. Pasar Jebres Surakarta menjadi salah satu contoh penggunaan
kantong plastik yang terbanyak saat itu. Penelitian ini
bertujuan untuk menggali pemahaman mendalam tentang dimensi sosio kultural dan
relasi yang melanggengkan praktik penggunaan kantong plastik di ruang pasar
tradisional. Penelitian ini
menggunakan teori praktik sosial Pierre Bourdieu dengan menganalisis tiga
konsep utama yakni habitus, modal, dan arena sebagai kerangka untuk memahami
bagaimana praktik sosial terbentuk dan tereproduksi. Jenis penelitian ini
menggunakan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui
wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap aktor-aktor yang terlibat. Keabsahan
data diuji menggunakan teknik triangulasi sumber, sedangkan analisis data
dilakukan menggunakan model pattern matching Robert K. Yin. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa kelima aktor menempati posisi berbeda dalam arena
pasar dengan modal yang tidak merata, yang mana pedagang dan pembeli telah
membentuk habitus yang membuat penggunaan kantong plastik dianggap hal yang
wajar. Ketimpangan modal antaraktor menyebabkan tidak ada pihak yang cukup kuat
untuk menghentikan praktik, sehingga program Pasar Minim Sampah yang diinisiasi
Gita Pertiwi bersama dinas sebagai kolaborator belum mampu menghasilkan
perubahan yang signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa reproduksi
penggunaan kantong plastik terjadi karena arena, modal, dan habitus bekerja
secara sinergis membuat praktik terus berulang meskipun upaya perubahan telah
dilakukan.