Wisata adalah kegiatan perjalanan sementara untuk rekreasi,
pembelajaran, atau pengembangan diri, sedangkan pariwisata mencakup dampak
sosial, ekonomi, dan budaya dari aktivitas tersebut. Pulau Kumala di Kabupaten
Kutai Kartanegara merupakan destinasi wisata alam seluas ±76 ha di delta Sungai
Mahakam yang menjadi ikon wisata berbasis alam dan budaya. Untuk
meningkatkan daya tariknya, diperlukan revitalisasi berkelanjutan guna
meningkatkan nilai ekonomi wisata. Nilai ekonomi wisata tersebut dapat diukur
menggunakan pendekatan Willingness to Pay (WTP) dan Travel Cost Method
(TCM). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan data
primer dari kuesioner, wawancara, dan observasi, serta data sekunder dari Dinas
Pariwisata Kutai Kartanegara. Sampel sebanyak 100 responden serta analisis
data mencakup karakteristik pengunjung, Individual Travel Cost Method (ITCM),
dan Willingness to Pay (WTP) dengan teknik payment card. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pengunjung Pulau Kumala didominasi oleh wisatawan
perempuan usia 21–25 tahun, berstatus pelajar/mahasiswa, berpendapatan
menengah, dan berasal dari wilayah sekitar Tenggarong, sehingga mencerminkan
destinasi wisata lokal yang mudah diakses dan diminati usia produktif. Mayoritas
pengunjung belum menikah, datang bersama keluarga, serta memiliki kunjungan
ulang yang cukup tinggi. Pulau Kumala menjadi tujuan utama rekreasi dengan
durasi singkat (1–3 jam), sementara informasi kunjungan didominasi pengalaman
sebelumnya dan rekomendasi mulut ke mulut. Analisis ITCM menunjukkan biaya
perjalanan berpengaruh negatif terhadap tingkat kunjungan, dengan nilai ekonomi
wisata mencapai sekitar Rp10.985.110.344,76. Sementara itu, rata-rata WTP
sebesar Rp17.200 dengan potensi tambahan pendapatan sekitar Rp32.613.725
per bulan, dan hanya variabel usia yang berpengaruh signifikan terhadap WTP,
sedangkan faktor lain tidak signifikan karena lebih dipengaruhi persepsi kualitas,
kenyamanan, kepuasan, dan pengalaman wisata.