Gawangan hidup pada tanaman kelapa sawit fase
menghasilkan memiliki peran penting sebagai zona aktif pertumbuhan akar, karena
memiliki jangkauan radius 6,5 m dari batang serta gawangan hidup menjadi area
aplikasi beberapa jenis pupuk. Namun, operasional perkebunan yang berjalan
intensif menyebabkan permukaan tanah relatif terbuka sehingga rentan mengalami
degradasi, ditandai dengan hilangnya lapisan top soil dan terlihatnya
perakaran tanaman. Hilangnya lapisan top soil menyebabkan penurunan
bahan organik sebagai sumber energi organisme tanah dan menurunnya hara tanah
yang tercermin pada rendahnya N-total dan C-organik. Kondisi pH tanah yang
masam juga memperparah penurunan habitat organisme serta ketersediaan sumber
energi. Akibatnya, berdampak pada rendahnya sifat biotik tanah seperti, populasi
cacing 3 individu m-2, populasi makrofauna 5 individu m-2,
dan soil feeding activity 1,65%. Penelitian ini bertujuan menentukan
perlakuan terbaik dalam memperbaiki sifat biotik tanah di gawangan hidup.
Metode eksperimen dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan lima perlakuan
(A: Kontrol, B: TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) 40 ton/ha, C: TKKS 80 ton/ha,
D: ujung pelepah, E: kombinasi ujung pelepah dengan pupuk hayati mikoriza) dan
direplikasi sebanyak lima ulangan, sehingga diperoleh 25 plot yang diamati
selama tiga bulan. Parameter yang diamati meliputi populasi cacing tanah,
kepadatan makrofauna tanah, dan soil feeding activity sebagai indikator biotik
tanah. Hasil menunjukkan TKKS 40 ton/ha memberikan sifat biotik tanah terbaik
pada hasil pengamatan, ditunjukan dengan hasil rerata pembobotan skor dari
parameter populasi cacing, kepadatan populasi makrofauna, dan soil feeding
activity dengan nilai sebesar 0,51. Perbaikan sifat
biotik mencerminkan peningkatan kualitas tanah yang dapat mendukung pertumbuhan
akar dan efektivitas pemupukan, serta dapat berimplikasi terhadap peningkatan
produktivitas tanaman secara berkelanjutan