Penelitian ini menganalisis upaya Pemerintah Timor-Leste dalam menangani penyelundupan bahan bakar minyak (BBM) di wilayah perbatasan darat dengan Indonesia pada periode 2019-2024 serta menelaah peran Indonesia sebagai negara asal BBM bersubsidi. Penyelundupan, khususnya Pertalite, dipicu oleh disparitas harga akibat kebijakan subsidi energi Indonesia, tingginya kebutuhan energi di Timor-Leste, serta kerentanan sosial-ekonomi masyarakat perbatasan. Karakter perbatasan yang relatif terbuka dan kuatnya ikatan sosial-budaya lintas batas turut memfasilitasi perdagangan informal dan ilegal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui studi dokumentasi dan wawancara dengan otoritas bea cukai, imigrasi, aparat keamanan dan kepala desa. Analisis dilakukan berdasarkan tahapan pengorganisasian data, kategorisasi tema, dan interpretasi. Kerangka konseptual yang digunakan adalah Keamanan Non-Tradisional dan Border Management (CIQS) untuk memahami penyelundupan sebagai ancaman multidimensional terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan kedua negara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Timor-Leste memperkuat pengawasan CIQS, meningkatkan patroli dan koordinasi antar lembaga, serta mendorong kerja sama bilateral melalui forum perbatasan dan patroli gabungan dengan Indonesia. Namun, keterbatasan sumber daya, infrastruktur yang belum memadai, dan ketergantungan ekonomi masyarakat pada perdagangan informal masih menjadi tantangan utama. Oleh karena itu, diperlukan strategi komprehensif yang mengintegrasikan penegakan hukum, penguatan kelembagaan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat perbatasan guna mewujudkan pengelolaan perbatasan yang berkelanjutan.