Indonesia adalah Negara yang menempati urutan ke
tiga sebagai paru-paru dunia. Hal ini didukung oleh luasnya kawasan
hutan di Indonesia seperti hutan bakau, hutan hujan tropis dataran
rendah dan dataran tinggi, hutan sabana, serta hutan rawa yang masih
asri. Namun keadaan ini terancam karena adanya deforestasi. salah satu
penyebab deforestasi paling tinggi adalah kebakaran hutan. Dampak yang
ditimbulkan dari kebakaran hutan adalah hilangnya tutupan hutan. Salah
salah satunya yang terdampak adalah hutan hujan pegunungan (cloud
forest). Untuk mengembalikan dan menjaga hilangnya tutupan hutan perlu
dilakukan reboisasi dan rehabilitasi hutan. Upaya tersebut harus
didukung dengan informasi dan data pendukung mengenai hasil penilaian
kesehatan hutan. Berdasarkan latarbelakang tersebut,
penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kesehatan hutan di
Hutan Hujan Pegunungan Gunung Lawu berdasarkan indikator biodiversitas
dan vitalitas. Tahapan penilitan ini terdiri dari pembuatan petak
penelitian (petak kuadran), pengukuran kesehatan hutan berdasarkan
indikator bidiversitas dan vitalitas dengan teknik FHM (Forest Health
Monitoring), dan penilaian kesehatan hutan. Penelitian ini dilakukan di
Hutan Hujan Pegunungan Gunung Lawu. Lokasi pengambilan data dilakukan
pada ketinggian antara 1000- 2700 mdpl di kawasan hutan primer, tepatnya
di lereng bagian selatan dan barat Gunung Lawu sebanyak enam titik
penilaian dan setiap titik dibuat empat plot dengan ukuran 20x20m.
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2020 hingga Januari 2022.
Status kesehatan yang didapatkan dalam penelitian ini pada titik satu
(Gumeng atas) sebesar 3,65 dengan status sedang, titik dua (Gumeng)
sebesar 4,21 dikategorikan baik, titik tiga (Tlogodlingo) sebesar 1,19
dikategortikan buruk, titik 4 empat (Jobolarangan) sebesar 3,80
dikategorikan sedang, titik lima (Segoro Gunung) sebesar 3,45
dikategorikan sedang, dan titik enam (Pringgodani) sebesar 5,51
dikatergorikan baik.