Lahan pertanian memiliki peran penting dalam
keberlanjutan usahatani, namun penggunaan lahan yang intensif, terutama di
lahan miring, dapat menyebabkan erosi dan penurunan kesuburan tanah. Penerapan
konservasi lahan sangat diperlukan, salah satunya dengan metode guludan.
Guludan yang memotong lereng lebih efektif dalam mengurangi laju aliran air dan
mencegah erosi dibanding guludan searah lereng. Kecamatan Cepogo, Kabupaten
Boyolali, berada di dataran tinggi dan merupakan bagian dari DAS Pepe yang berada
di ketinggian 909 mdpl. Kurangnya pemahaman petani tentang arah guludan
menyebabkan erosi dan sedimentasi sungai. Apa saja faktor yang memengaruhi
perilaku petani dalam mengolah lahan ini dapat dilihat berdasarkan konsep
keberlanjutan yang dibagi menjadi 3 yaitu motif ekonomi, sosial, dan
lingkungan. Oleh karena itu, penerapan guludan yang tepat perlu diterapkan demi
menjaga produktivitas lahan dan kelestarian lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
faktor-faktor yang memengaruhi dan faktor dominan apa yang memengaruhi perilaku
petani dalam mengolah lahan di DAS Pepe, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali,
Jawa Tengah.Metode dasar penelitian ini
adalah deskripsi kuantitatif. Lokasi penelitian adalah di daerah sekitar DAS
Pepe Kecamatan Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah dan menggunakan 100 sampel petani sayuran.
Data yang digunakan meliputi data primer dan sekunder dengan teknik pengumpulan
data yaitu observasi, wawancara, pencatatan, dan studi pustaka. Data dianalisis
menggunakan regresi logistik biner menggunakan aplikasi STATA 17.Hasil analisis menunjukkan
bahwa variabel pengalaman bertani dan pendidikan informal merupakan variabel
yang signifikan dengan pengaruh positif, sedangkan variabel umur, Dummy
2 kemiringan lahan curam dan biaya pembuatan guludan merupakan variabel yang
signifikan dengan pengaruh negatif. Variabel lama pendidikan dan Dummy 1
kemiringan lahan berbukit ditunjukkan sebagai variabel yang tidak signifikan
dalam penelitian ini. Variabel yang memiliki pengaruh paling dominan yaitu
variabel biaya pembuatan guludan.
Berdasarkan hasil analisis,
dapat diperoleh rekomendasi pagi petani dan pihak terkait yaitu pemerintah dan
lembaga terkait perlu melakukan program pelatihan dan penyuluhan pertanian
untuk menerapkan teknik konservasi tanah yang efektif. Perlu adanya
pendampingan langsung bagi petani yang lebih tua untuk memahami konsekuensi
dari penerapan arah guludan yang salah. Pemerintah juga diharapkan dapat
memberikan subsidi dan juga insentif bagi petani yang menggunakan arah guludan
memotong untuk meningkatkan hasil panen secara berkelanjutan dengan memperhatikan
motif lingkungan. Hal ini tidak hanya dapat mendorong efisiensi ekonomi jangka
panjang, tetapi juga dapat mendukung pelestarian sumber daya alam dalam
menunjang konsep keberlanjutan usahatani.