Pulau Jawa beriklim tropik basah dengan hutan yang memiliki keragaman jenis vegetasi dengan komposisi jenis, umur, kerapatan jenis, kelembaban, serta faktor fisik lain yang berpengaruh terhadap tingkat kesuburan tanah. Perbedaan tingkat kesuburan tanah dapat dilihat dari kandungan bahan organik dan hara tanah. Tegakan hutan memiliki peluang untuk memberikan lebih banyak jasa ekosistem tanah dibandingkan lahan pertanian. Salah satu manfaatnya adalah akumulasi bahan organik dan hara N tanah. Penelitian ini dilakukan di Taman Nasional Gunung Merbabu (TNG-Merbabu) yang berada di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Penelitian ini dilakukan dengan metode pendekatan Stratified Purposive Sampling pada 6 jenis tegakan (Pinus/Pinus merkusii, Puspa/Schima noronhae theaceae, Akasia/Acacia decurren fabaceae, Bintamin/ Cupressus sp, Campuran dan Tegalan). Pengambilan sampel tanah dilakukan pada kedalaman 0-100 cm (0-10, 10-20, 20-30, 30-50, 50-70 dan 70-100 cm) dan diulang 3 kali pada setiap tegakan hutan TNG-Merbabu dan tegalan.Parameter pengamatan meliputi bahan organik tanah, N total, N tersedia, P total, P tersedia, K total, K tersedia, pH tanah, bobot isi. Analisis data menggunakan sidik ragam, uji DMRT (Duncan’s Multiple Range Test), uji regresi dan uji korelasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan bahan organik dan hara tanah mengalami penurunan sejalan dengan semakin dalam tanah (0-10, 10-20, 20-30, 30-50, 50-70 dan 70-100 cm). Akumulasi bahan organik kedalaman 0-100 cm, tertinggi pada tegakan hutan puspa (633,5 ton/ha), diikuti campuran, bintamin, akasia, sementara terendah adalah tegakan hutan yaitu pinus dengan 245,1 ton/ha, dan tegalan 184,1 ton/ha; sedangkan stok N tanah tertinggi pada tegakan hutan puspa yaitu 49 ton/ha, diikuti bintamin, campuran, akasia dan terendah pada tegakan hutan yaitu tegakan pinus sebesar 36,8 ton/ha, dan tegalan 18,2 ton/ha.Tegakan puspa mampu memberikan akumulasi bahan organik dan hara N tanah yang tertinggi ke dalam profil tanah (0-10, 10-20, 20-30, 30-50, 50-70, dan 70-100 cm), sehingga Puspa (Schima noronhae theaceae) dapat direkomendasikan sebagai jenis tanaman penghijauan (reboisasi hutan) yang baik.