Dalam
era logistik modern yang semakin kompleks dan berorientasi pada keberlanjutan,
efisiensi distribusi dan pengurangan emisi karbon menjadi tantangan utama dalam
manajemen rantai pasok. Penelitian ini mengembangkan model optimasi
multi-objektif untuk Cross-Docking Vehicle Routing Problem (CD-VRP) berbasis
algoritma genetika, yang mempertimbangkan dua tujuan utama secara simultan,
yaitu minimasi total biaya operasional dan minimasi total emisi karbon. Model optimasi
dikembangkan dalam skenario multiproduk, multi-supplier, dan multi-periode,
dengan mempertimbangkan struktur distribusi yang terdiri atas supplier,
pusat cross-docking, dan retailer. Komponen biaya mencakup biaya
pengiriman truk masuk dan keluar, biaya penyimpanan, biaya tambahan kapasitas,
serta biaya sewa kendaraan, sedangkan komponen emisi mencakup emisi
transportasi dan penyimpanan. Proses optimasi dilakukan menggunakan pendekatan
metaheuristik algoritma genetika yang diimplementasikan pada software
Python 3.10.7, dengan mekanisme static penalties untuk penalti
pelanggaran batasan dan random selection dalam seleksi parent.
Sebanyak enam pengaturan parameter algoritma genetika diuji, dengan variasi
nilai ukuran populasi, probabilitas crossover dan mutation, maksimum
generasi, dan kisaran awal populasi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa Pengaturan
#6 menghasilkan solusi terbaik dengan nilai fitness terendah sebesar 4,292×109,
total biaya Rp33.183.295.570,00, dan total emisi karbon 96.940.934,00 kg.CO₂eq.
Secara keseluruhan, nilai total biaya dari seluruh pengaturan berkisar antara
Rp33.183.295.570,00 hingga Rp248.782.396.346,00, sementara nilai total emisi
karbon berkisar antara 96.940.934,00 hingga 1.374.804.059,00 kg.CO₂eq.
Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa parameter algoritma seperti maksimum
generasi, probabilitas crossover dan mutation, ukuran populasi,
dan kisaran populasi awal sangat memengaruhi kualitas solusi. Temuan ini
menegaskan pentingnya pengaturan parameter dalam pendekatan evolusioner untuk
permasalahan optimasi kompleks. Penelitian ini memberikan kontribusi pada
pengembangan model distribusi hijau yang efisien, adaptif, dan relevan terhadap
kebutuhan industri logistik berkelanjutan.