Operasi logistik sering menghadapi berbagai
permasalahan distribusi seperti ketepatan waktu pengiriman, optimasi rute
distribusi, dan keterbatasan kapasitas armada. Salah satu pendekatan yang
mengintegrasikan pengelolaan persediaan dan penentuan rute distribusi adalah Inventory
Routing Problem (IRP), yang berperan penting dalam meningkatkan efisiensi
operasional. Namun demikian, aktivitas logistik berkontribusi signifikan
terhadap emisi karbon, terutama pada proses transportasi. Untuk mengatasi
permasalahan tersebut, pemerintah merumuskan kebijakan yang bertujuan menekan
tingkat emisi secara sistematis sekaligus tetap memberikan fleksibilitas bagi
pelaku industri. Salah satu kebijakan yang banyak diadopsi adalah carbon cap
and trade, yaitu sistem yang menetapkan batas maksimum emisi (cap)
dan memungkinkan perusahaan memperjualbelikan izin emisi (trade)
berdasarkan kinerja aktual pengurangan emisi. Penelitian ini mengembangkan
model optimasi yang bertujuan meminimasi biaya pengiriman, biaya persediaan,
biaya konsumsi bahan bakar, dan biaya carbon cap and trade. Variabel
keputusan mencakup penentuan rute distribusi, jumlah dan jenis produk yang
dikirim, diambil, serta ditransship untuk setiap retailer, serta jumlah
persediaan pada akhir periode perencanaan. Solusi optimal diperoleh menggunakan perangkat lunak LINGO 18.0 dengan
kerangka kerja solver Branch-and-Bound, disertai analisis sensitivitas
terhadap perubahan parameter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya
dan jumlah pengiriman tidak sensitif terhadap perubahan parameter, sedangkan
variabel jumlah produk yang diambil dan ditransship sensitif terhadap semua
perubahan parameter karena berperan sebagai variabel penyesuaian utama. Jumlah
persediaan akhir hanya sensitif terhadap perubahan kapasitas gudang, sedangkan
rute distribusi sensitif terhadap harga kredit karbon, biaya simpan,
permintaan, dan kapasitas gudang, namun tidak sensitif terhadap batas emisi
karbon. Hasil ini menghasilkan peran lateral transshipment dan
fleksibilitas persediaan dalam optimasi IRP berbasis kebijakan carbon cap
and trade, serta memberikan implikasi praktis bagi perusahaan logistik
dalam menyeimbangkan efisiensi biaya dan kepatuhan terhadap regulasi
lingkungan.