Jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) merupakan tanaman obat penting, namun produksinya menurun akibat berkurangnya luas panen. Budidaya tumpang sari dengan jagung berpotensi dikembangkan karena kesesuaian iklim, namun kendala utama adalah rendahnya kesuburan tanah alfisol dan tingginya biaya pupuk. Pemanfaatan pupuk organik kotoran ayam yang kaya kalium, dikombinasikan dengan pupuk anorganik KCl, diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan, hasil, dan metabolit sekunder jahe merah. Penelitian ini bertujuan mempelajari interaksi serta menentukan dosis optimum pupuk kotoran ayam dan KCl pada sistem tumpang sari dengan jagung. Penelitian dilaksanakan Juni 2024–Februari 2025 di Jumantono, Karanganyar (176 mdpl) menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah dosis pupuk kotoran ayam (0, 10, 20, 30 ton.ha⁻¹), dan faktor kedua adalah dosis KCl (0; 0,2; 0,4; 0,6 ton.ha⁻¹). Variabel meliputi iklim mikro, analisis tanah, pertumbuhan, hasil, serta kandungan metabolit sekunder. Data dianalisis dengan ANOVA, DMRT 5%, korelasi, dan regresi. Hasil penelitian menunjukkan aplikasi pupuk kotoran ayam meningkatkan pertumbuhan dan hasil jahe merah, meskipun dosis optimum belum tercapai. Pupuk kotoran ayam 30 ton.ha⁻¹ mampu meningkatkan tinggi tanaman 30%, jumlah daun 67%, anakan 90%, bobot segar rimpang 171%, dan flavonoid 10%. Aplikasi KCl hingga 0,6 ton.ha⁻¹ belum menunjukkan pengaruh nyata. Rekomendasi pemupukan untuk tumpang sari jahe merah–jagung adalah 20 ton.ha⁻¹ pupuk kotoran ayam dan 0,2 ton.ha⁻¹ KCl. Variabel pertumbuhan berkorelasi positif dengan hasil, sedangkan flavonoid menunjukkan korelasi negatif dengan sebagian besar parameter pertumbuhan.