Desa
Kliwonan merupakan desa penghasil batik yang terletak di Kabupaten Sragen, Jawa
Tengah. Desa ini dikenal dengan motif flora karena masyarakatnya yang dekat
dengan kondisi alam. Salah satu motif flora yang khas adalah motif kembang
kantil. Kembang kantil memiliki makna mendalam bagi masyarakat setempat karena
dahulu dimanfaatkan sebagai pengharum pekarangan rumah. Motif ini memiliki
nilai budaya yang kuat, namun kini mulai terpinggirkan akibat dominasi produk
massal yang mengikuti selera pasar. Upaya menjaga eksistensinya memerlukan
pengembangan motif yang tetap berakar pada budaya lokal. Pengembangan ini
menawarkan inovasi berupa motif baru berbasis aroma, yang berasal dari aroma
kembang kantil dan disandingkan dengan visual kembang kantil dalam penggambaran
motif. Tujuan perancangan ini adalah menciptakan motif batik tulis
berbasis aroma sebuah pendekatan yang masih jarang ditemukan dengan mengolah
imajinasi untuk memvisualkan keharuman dari tumbuhan kembang. Aroma yang bersifat nonvisual divisualisasikan melalui teknik swirl
painting, di mana hasil terbaik dari eksplorasi teknik ini dipilih dan
kemudian di-tracing agar menjadi motif yang terbaca secara visual. Perancangan ini menggunakan pendekatan S.P.
Gustami dengan tiga tahapan utama, yaitu tahap eksplorasi, tahap perancangan,
dan tahap perwujudan. Hasil akhir perancangan berupa panel dress
yang bernuansa warna alam remasol dan dibuat dengan teknik batik tulis,
mengangkat makna kembang kantil sebagai simbol keharuman yang berasal dari
peristiwa serta kebiasaan masyarakat Kliwonan pada zaman dahulu. Pemilihan
media dress bertujuan untuk membangkitkan kembali minat generasi muda
terhadap batik sebagai busana yang mencerminkan identitas budaya.Temuan pada perancangan ini adalah bahwa
aroma yang bersifat nonvisual dapat divisualisasikan menjadi motif batik
melalui teknik swirl painting dan batik tulis untuk memperkenalkan
cerita kembang kantil dari masyarakat Kliwonan kepada masyarakat luas di
Indonesia.