Pandemi Covid-19 memberikan dampak signifikan terhadap sektor ekonomi daerah, termasuk di Kota Surakarta, yang ditandai dengan menurunnya jumlah UMKM, meningkatnya angka pengangguran, dan keterbatasan interaksi ekonomi akibat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kondisi ini memperlihatkan keterbatasan pemerintah dalam mengadopsi digitalisasi dan menyediakan infrastruktur smart city secara optimal. Untuk mengatasi hal tersebut, dibutuhkan dukungan sektor swasta melalui skema Public-Private Partnership (PPP). Salah satu wujud nyata kolaborasi tersebut adalah program Co-Creation for a Smarter City antara Pemerintah Kota Surakarta dan PT Grab Teknologi Indonesia, yang berfokus pada pengembangan ekonomi digital, pemberdayaan UMKM, dan perluasan layanan publik berbasis teknologi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengembangan program Co-Creation for a Smarter City di Kota Surakarta dalam perspektif PPP menggunakan teori empat komponen kemitraan Uhlik (2007), yang meliputi relationship, resources, partnership network, dan organization. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode wawancara dan dokumentasi, serta dianalisis menggunakan model Miles, Huberman dan Saldana (2014). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan, kemitraan publik-swasta berjalan dengan baik. Faktor relationship tercermin dari komunikasi yang transparan, kepercayaan publik, dan komitmen kedua pihak. Faktor resources dinilai cukup baik dengan pembagian peran finansial yang jelas serta dukungan teknologi yang memadai, meskipun monitoring and evaluation terhadap SDM belum dilakukan secara rutin. Faktor partnership network menunjukkan kolaborasi lintas aktor yang solid dan konektivitas berkelanjutan antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Faktor organization juga berjalan baik melalui penerapan regulasi, tata kelola akuntabel, dan pengawasan lembaga terkait. Namun, feasibility study yang lebih mendalam masih diperlukan agar manajemen risiko dan keberlanjutan program dapat terjamin optimal.