Rotan jernang merupakan salah satu jenis rotan yang saat ini mulai banyak dibudidayakan karena menghasilkan getah berwarna merah yang disebut sebagai jernang dan dalam istilah perdagangan internasional disebut sebagai dragon’s blood. Kebutuhan pasar dunia yang semakin tinggi terhadap resin jernang menjadikan pencarian resin jernang semakin sulit dan harus masuk ke dalam hutan karena masyarakat belum melakukan budidaya di kebun. Budidaya rotan jernang secara konvensional masih mempunyai beberapa masalah karena pola pemanenan buah yang tidak berkelanjutan dan badan embrio yang dilindungi oleh kulit yang keras. Upaya untuk mengatasi masalah ini dilakukan melalui budidaya rotan jernang secara kultur jaringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai konsentrasi IAA dan kinetin yang terbaik untuk pertumbuhan eksplan rotan jernang (Daemonorops draco (Willd.) Blume) melalui kultur jaringan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret pada bulan Maret sampai Juli 2024. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang disusun secara faktorial dan terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi IAA (0, 2, 3, dan 5 ppm). Faktor kedua adalah konsentrasi kinetin (0, 2, 4, dan 6 ppm). Media MS (Murashige and Skoog) yang digunakan dalam penelitian ini, dimodifikasi dengan penambahan zat pengatur tumbuh IAA dan kinetin. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan sterilisasi peralatan, pembuatan media perlakuan, sterilisasi eksplan, penanaman eksplan, observasi, dan pemeliharaan. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji F pada taraf 5%. Apabila terdapat perbedaan yang nyata, maka dilanjutkan DMRT (Duncan Multiple Range Test) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan pada variabel waktu muncul tunas, hasil terbaik ditunjukkan pada perlakuan I2K3 (IAA 3 ppm + kinetin 6 ppm). Pada variabel waktu muncul kalus, hasil terbaik ditunjukkan pada perlakuan I3K3 (IAA 5 ppm + kinetin 6 ppm). Pada variabel persentase tumbuh kalus, perlakuan I2K3 (IAA 3 ppm + kinetin 6 ppm) dan I3K1 (IAA 5 ppm + kinetin 2 ppm) memberikan hasil yang terbaik. Pada variabel warna kalus, perlakuan I3K1 (IAA 5 ppm + kinetin 2 ppm) memberikan hasil yang terbaik. Pada variabel tekstur kalus, perlakuan I3K3 (IAA 5 ppm + kinetin 6 ppm) memberikan hasil yang terbaik. Pada variabel waktu muncul akar, perlakuan I1K0 (IAA 2 ppm + kinetin 0 ppm) memberikan hasil yang terbaik. Pada variabel persentase tumbuh akar, perlakuan kontrol, kinetin tunggal 2 dan 4 ppm, I1K2 (IAA 2 ppm + kinetin 4 ppm), dan I2K3 (IAA 3 ppm + kinetin 6 ppm) memberikan hasil yang terbaik. Pada variabel panjang akar, perlakuan tanpa penambahan IAA dan kinetin memberikan hasil yang terbaik. Pada variabel jumlah akar, perlakuan kinetin 2 ppm memberikan hasil yang terbaik.