Komunitas perkotaan semakin rentan terhadap tantangan perubahan iklim, terutama yang memiliki ruang terbuka hijau terbatas dan pemukiman padat. Fenomena ini memengaruhi perilaku manusia terhadap pengelolaan lingkungan dan memerlukan pendekatan stakeholder yang efektif untuk memperkuat partisipasi komunitas dalam upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Program Kampung Iklim (ProKlim) di Kampung Suronalan RW 8, Kota Solo, menjadi kasus yang relevan untuk mengkaji bagaimana aksi lingkungan berbasis partisipasi komunitas dapat mendorong perubahan perilaku dan mendukung pertanian perkotaan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pelaksanaan, lingkup kegiatan dan stakeholder dalam implementasi, serta dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan yang dihasilkan ProKlim. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui wawancara mendalam (in-depth interview), observasi lapangan, dan studi dokumentasi. Analisis Social Return on Investment (SROI) diterapkan untuk mengkuantifikasi manfaat ProKlim berdasarkan kerangka konseptual yang banyak digunakan dalam studi penyuluhan dan pemberdayaan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ProKlim Suronalan didukung kolaborasi kuat antarstakeholder dan partisipasi aktif masyarakat. Upaya migitasi, adaptasi, dan kelembagaan mencapai tingkat keberhasilan tinggi, terutama pada urban farming, pengelolaan sampah, pemanfaatan energi terbarukan, dan pemberdayaan perempuan. ProKlim Suronalan menghasilkan manfaat sosial tinggi, nilai ekonomi sedang-tinggi, serta peningkatan kualitas lingkungan yang signifikan. Rasio analisis SROI menunjukkan bahwa total manfaat melampaui biaya investasi sebesar 4,67. Temuan ini berkontribusi sebagai bukti empiris mengenai efektivitas ProKlim berbasis partisipatif dan mendukung kebutuhan pembangunan untuk memperluas strategi ketahanan iklim masyarakat.