Anakita Sascha Aurora Jasmine. K5421011. Dr. Moh Gamal Rindarjono,
M.Si. ANALISIS STRATEGI KESIAPSIAGAAN GURU TERHADAP
BENCANA GEMPABUMI MEGATHRUST DI SEKOLAH LUAR BIASA
YKK PACITAN JAWA TIMUR (DALAM PENDAMPINGAN SISWA
TUNARUNGU). Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret Surakarta, Oktober 2025.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis strategi kesiapsiagaan guru
SLB YKK Pacitan dalam menghadapi ancaman bencana gempabumi megathrust;
(2) mendeskripsikan mekanisme pendampingan dan evakuasi siswa tunarungu yang
diterapkan di lingkungan sekolah; serta (3) menganalisis hambatan manajerial dan
keruangan (spatial constraints) yang mempengaruhi keselamatan warga sekolah
berkebutuhan khusus.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif.
Teknik pengambilan sampel menggunakan snowball sampling. Informan kunci
dalam penelitian ini meliputi Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah Bidang
Kurikulum, Koordinator Kebencanaan, Guru Kelas, dan perwakilan orang tua
siswa. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam (in-depth
interview), observasi keruangan, dan studi dokumentasi. Validitas data diuji
menggunakan triangulasi sumber. Analisis data menggunakan model interaktif
Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi kondensasi data, penyajian data, dan
penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, secara manajerial
pendidikan kebencanaan belum terintegrasi ke dalam kurikulum formal dan tidak
memiliki Prosedur Operasi Standar (SOP) tertulis dikarenakan keterbatasan
otonomi sekolah terhadap regulasi pusat, sehingga pelaksanaannya bersifat
insidental. Kedua, strategi pendampingan guru di lapangan masih berbasis
spontanitas dengan mengandalkan kepekaan vibrasi (tactile sensitivity) siswa
tunarungu sebagai alarm alami, namun strategi ini ditemukan tidak efektif bagi
siswa dengan hambatan majemuk. Ketiga, pelibatan orang tua dalam mitigasi
bencana sangat minim sehingga memutus rantai informasi keselamatan dari sekolah
ke rumah. Keempat, kondisi keruangan sekolah yang berada di zona rawan tsunami
belum didukung oleh aksesibilitas jalur evakuasi dan sistem peringatan dini visual
yang memadai. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa kesiapsiagaan sekolah
masih bertumpu pada heroisme individu guru dan belum bertransformasi menjadi
kesiapsiagaan institusional yang tangguh.