Daerah
Istimewa Yogyakarta, khususnya Kabupaten Bantul, termasuk wilayah yang rawan
gempabumi dan pernah mengalami gempa besar pada tahun 2006. Dalam kondisi
tersebut, kesiapsiagaan masyarakat menjadi hal penting dalam mengurangi risiko
bencana. Kesiapsiagaan dipengaruhi oleh faktor sosial dan psikologis seperti
gender, persepsi risiko, pengetahuan bencana, dan pengalaman bencana.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kesiapsiagaan laki-laki
dan perempuan dalam menghadapi bencana gempabumi di Kabupaten Bantul, Daerah
Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan
metode deskriptif-komparatif. Data diperoleh melalui penyebaran kuesioner
kepada 300 responden yang terdiri dari 110 laki-laki dan 190 perempuan. Analisis
data dilakukan menggunakan statistik deskriptif, uji validitas, uji
reliabilitas, dan Independent Samples t-test. Kesiapsiagaan diukur
melalui aspek pengetahuan, sikap, dan tindakan menghadapi bencana gempabumi.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara kesiapsiagaan
laki-laki dan perempuan dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 (<0,05).
Perempuan memiliki tingkat kesiapsiagaan lebih tinggi dibandingkan laki-laki.
Nilai rata-rata kesiapsiagaan perempuan sebesar 79,38, sedangkan laki-laki
sebesar 62,85. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa persepsi risiko,
pengetahuan bencana, dan pengalaman bencana berperan dalam membentuk
kesiapsiagaan masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konstruksi gender
memengaruhi cara laki-laki dan perempuan dalam memahami dan merespons risiko
bencana. Oleh karena itu, pemerintah dan lembaga kebencanaan perlu meningkatkan
edukasi kebencanaan yang responsif gender dan memperkuat partisipasi masyarakat
dalam program kesiapsiagaan bencana.