Bawang putih (Allium sativum L.) merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi yang produksinya mengalami penurunan akibat serangan penyakit bercak ungu yang disebabkan oleh Alternaria porri. Penggunaan fungisida sintetis secara berlebihan untuk mengendalikan penyakit ini menimbulkan permasalahan lingkungan, sehingga diperlukan alternatif pengendalian yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas biofilm biofertilizer yang dikombinasikan dengan dosis NPK berimbang dalam menekan intensitas penyakit bercak ungu serta meningkatkan hasil bawang putih pada tanah Andisol di Tawangmangu. Penelitian dilaksanakan di Desa Pancot, Kelurahan Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar pada bulan Mei–September 2024. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor berupa kombinasi biofilm biofertilizer dan NPK (0; 50; dan 100%), masing-masing diulang sebanyak enam kali. Variabel yang diamati meliputi pertumbuhan, hasil bawang putih, dan tingkat keparahan penyakit. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) berdasarkan uji F, dan apabila menunjukkan pengaruh nyata dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf uji α 5% (tingkat kepercayaan 95%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi biofilm biofertilizer dengan NPK berimbang mampu menurunkan tingkat keparahan penyakit serta memperbaiki sifat kimia tanah, meliputi kandungan N total, P tersedia, dan C-organik tanah. Rata-rata tingkat keparahan penyakit pada seluruh perlakuan sebesar 23,67%, dengan rata-rata hasil umbi segar mencapai 14,15 t ha⁻¹. Kombinasi perlakuan 100% NPK + Bio2 memberikan hasil terbaik dengan tingkat keparahan penyakit terendah (18%) dan hasil umbi segar tertinggi (15,68 t ha⁻¹). Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan biofilm biofertilizer yang dikombinasikan dengan dosis NPK optimal dapat meningkatkan produktivitas bawang putih sekaligus menekan tingkat keparahan penyakit secara berkelanjutan.