Penyakit busuk pangkal merupakan kendala utama dalam budidaya bawang putih, karena menyebabkan penurunan
hasil yang signifikan. Pengendalian dengan pestisida kimia berdampak negatif
pada lingkungan, sehingga diperlukan alternatif yang ramah lingkungan melalui
penggunaan pupuk hayati dan pemupukan berimbang. Penelitian dilaksanakan di Desa
Pancot, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, pada
Mei–September 2024. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas
perimbangan Biofilmed Biofertilizer (BIO₂) dan pupuk kalium dalam menekan penyakit busuk
pangkal (Fusarium oxysporum f. sp. cepae) serta meningkatkan
hasil bawang putih pada tanah Andisol Tawangmangu. Penelitian menggunakan
Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan: P0 (K 100% tanpa BIO₂), P1 (K 0% + BIO₂), P2 (K 50% + BIO₂), dan P3 (K 100% + BIO₂), masing-masing enam ulangan. Variabel yang diamati
meliputi insidensi penyakit, keparahan kelayuan, laju infeksi, keparahan busuk
pangkal, Area Under the Disease Progress Curve (AUDPC), uji efektivitas penekanan penyakit, serta
pertumbuhan dan hasil tanaman. Data dianalisis dengan ANOVA, apabila berbeda
signifikan akan dilanjutkan uji lanjut DMRT 5% dan uji korelasi. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa kombinasi BIO₂ dan kalium meningkatkan pertumbuhan tanaman sekaligus
menekan keparahan penyakit. Perlakuan K 50% + BIO₂ merupakan perlakuan paling efektif dalam meningkatkan
hasil bawang putih, dengan efektivitas peningkatan hasil mencapai 58,83%. Sementara
itu, perlakuan K 100% + BIO₂ menunjukkan efektivitas tertinggi dalam menekan
keparahan penyakit busuk pangkal, yaitu sebesar 30,12%.