Peternakan domba di Indonesia berpotensi besar untuk dikembangkan karena domba mudah beradaptasi, cepat berkembang biak, dan permintaan dagingnya terus meningkat, baik untuk konsumsi harian maupun kebutuhan keagamaan. Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengevaluasi tatalaksana penggemukan domba serta menganalisis kelayakan usaha di Peternakan Somo Farm, Bantul, Yogyakarta. Metode yang digunakan meliputi pengumpulan data primer dan sekunder. Hasil Tugas Akhir ini menunjukkan pemilihan bakalan di Somo Farm telah sesuai dengan standar bakalan domba penggemukan, yakni berumur 4–6 bulan, sehat, dan tidak cacat. Manajemen perkandangan menggunakan kandang panggung tipe koloni dengan jumlah 10 ekor per flock dengan ventilasi baik serta sanitasi yang cukup terjaga. Pemberian pakan berupa hijauan (rumput odot dan pakchong) sebanyak 3 kg/ekor/hari berat segar dan konsentrat 1 kg/ekor/hari sudah memenuhi kebutuhan nutrien domba, terbukti dengan kelebihan konsumsi bahan kering (BK), protein kasar (PK), dan total digestible nutrient (TDN). Nilai pertambahan bobot badan harian (PBBH) rata-rata mencapai 0,121 kg/ekor/hari dan Feed Conversion Ratio (FCR) sebesar 12,1, yang menandakan efisiensi pakan sudah optimal. Nilai Feed Cost Gain (FCG) rata-rata sebesar Rp. 35.273, Feed Efficiency Ratio (FER) 8,27%, serta Income Over Feed Cost (IOFC) sebesar Rp. 3.160/ekor/hari. Analisis usaha menunjukkan bahwa Somo Farm memiliki total biaya produksi sebesar Rp. 88.104.250/tahun dengan total penerimaan Rp. 100.700.000/tahun, sehingga diperoleh keuntungan sebesar Rp. 12.595.750/tahun. Nilai Break Even Point (BEP) tercapai pada Rp. 80.108.854 atau setara 30 ekor domba, menunjukkan bahwa usaha ini berada pada kondisi layak. Dengan demikian, usaha penggemukan domba di Somo Farm dinyatakan produktif dan layak untuk dikembangkan, baik dari aspek teknis maupun finansial.