Pengelolaan sampah menjadi salah satu tantangan utama dalam pembangunan kota di kawasan ASEAN, khususnya dalam mewujudkan lingkungan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Seiring dengan meningkatnya kepadatan penduduk dan pola konsumsi, sistem pengelolaan sampah yang inklusif menjadi kebutuhan mendesak dalam menanggulangi dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh limbah. Sistem pengelolaan sampah yang efektif menjadi indikator penting dalam mengukur komitmen suatu negara dalam menciptakan kota hijau dan cerdas. Melalui program “Sumpah Beruang”, Kabupaten Banyumas, sebagai salah satu daerah di Indonesia, menghadirkan model pengelolaan sampah yang tidak hanya mengurangi dampak timbulan limbah, tetapi juga mampu menekankan pentingnya pemanfaatan kembali sumber daya dan menciptakan nilai tambah dari sampah. Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam bagaimana proses inovasi pengelolaan sampah di Kabupaten Banyumas berkembang hingga terpilih menjadi bagian dari program Smart Green ASEAN Cities. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik library research. Dalam proses analisisnya, penelitian ini menggunakan konsep ekonomi sirkular sebagai dasar pemikiran untuk melihat bagaimana pengelolaan sampah dapat menciptakan nilai tambah ekonomi. Penelitian ini juga menggunakan teori Hexa Helix sebagai alat analisis untuk mengidentifikasi bagaimana keterlibatan multiaktor antara pemerintah, swasta, akademisi, komunitas, media, dan regulasi dalam mendukung keberhasilan inovasi pengelolaan sampah yang berkelanjutan di Kabupaten Banyumas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inovasi pengelolaan sampah muncul dari kebutuhan mendesak yang kemudian dikembangkan melalui kolaborasi multiaktor. Kolaborasi ini tidak hanya mengoptimalkan pengelolaan sampah, tetapi juga mendorong terpilihnya Kabupaten Banyumas menjadi bagian dari program Smart Green ASEAN Cities sebagai contoh nyata integrasi inovasi lokal yang mampu memadukan aspek keberlanjutan secara menyeluruh. Dengan demikian, Kabupaten Banyumas tidak hanya menjadi contoh sistem pengelolaan sampah inovatif di negara-negara anggota ASEAN, tetapi juga menunjukkan bagaimana strategi lokal dapat berkontribusi terhadap pembangunan kota cerdas di kawasan regional.