Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret – Surakarta.
Tanah Inceptisol merupakan tanah yang masih berkembang sehingga kandung nutrisinya
rendah, terutama Kalium (K), hal tersebut dikarenakan sifatnya yang menyerupai bahan
induk. Untuk meningkatkan kesuburannya, penelitian ini menguji pupuk hayati (Biofilm
Biofertilizer/BFBF) dan pupuk organik (kompos/cair dari sampah rumah tangga) yang
dikombinasikan dengan imbangan NPK. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak
Kelompok Lengkap (RAKL) pada tanaman cabai merah merah dengan 14 perlakuan
(kombinasi pupuk hayati, organik, dan kimia) serta 3 ulangan (total 42 unit percobaan)
dengan rancangan dosis untuk perlakuan yang digunakan 75% NPK + 25% Pupuk Organik
dan BFBF, 50% NPK + 50% Pupuk Organik dan BFBF, 25% NPK + 75% Pupuk Organik
dan BFBF, dan 0% NPK + 100% Pupuk Organik dan BFBF. Penelitian ini menggunakan
tanaman cabai merah sebagai tanaman uji. Parameter yang diamati meliputi sifat tanah (pH,
KTK, C-organik, K tersedia, total populasi bakteri,), serta pertumbuhan dan hasil tanaman
(berat kering, kadar K jaringan, serapan K, berat buah, panjang buah, dan hasil panen).
Perlakuan terbaik dalam penelitian ini adalah NB5 (Biofilm Biofertilizer 100%), NP5
(Pupuk Organik Cair 100%), dan NR5 (Kompos 100%) dikarenakan ketiga perlakuan
tersebut memiliki hasil yang similiar, ketiganya dapat meningkatkan pH tanah, c-organik
tanah, dan populasi bakteri pada tanah sehingga kalium tersedia dalam tanah juga
meningkat, semakin tinggi kalium tersedia maka akan meningkatkan kadar kalium, dan
serapan kalium tanaman, sehingga meningkatkan berat segar, berat kering, berat buah,
panjang buah dan bobot panen. hal tersebut dikarenakan bahan organik yang terdapat
dalam ketiga pupuk tersebut mampu meningkatkan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanah
sehingga tersedia untuk diserap tanaman guna meningkatkan hasil panen.