Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis ketersediaan dan mengevaluasi kelayakan fungsional prasarana venue
latihan serta sarana arung jeram di KONI Surakarta. Kelayakan dinilai
berdasarkan standar International Rafting Federation (IRF) Race Rules dan Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI).Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan
observasi langsung, wawancara mendalam dengan 1 pengurus dan 1 pelatih, serta
studi dokumentasi di Danau Universitas Sebelas Maret (UNS) sebagai venue
latihan. Instrumen penelitian divalidasi oleh lima ahli dengan metode Content
Validity Index (Ave-CVI 1.00) dan keabsahan data diuji menggunakan
triangulasi sumber. Analisis data menggunakan gap analysis.Hasil penelitian menunjukkan
adanya major gap kritis yang fundamental pada prasarana dan sarana arung
jeram di KONI Surakarta. Danau UNS sebagai satu-satunya venue latihan
merupakan perairan tenang (flatwater) dengan arus Class I–II yang
hanya mendukung latihan teknik dasar dan tidak memenuhi standar venue
kompetitif IRF dan FAJI yang mensyaratkan sungai alami dengan jeram dan
variasi arus Class II–III hingga Class IV–V. Venue ini tidak memiliki
hambatan alami yang diperlukan untuk simulasi kompetisi, disertai kondisi
lingkungan yang kurang terawat dengan air keruh dan dangkal. Pada aspek sarana
utama, ditemukan major gap berupa ketiadaan kepemilikan perahu karet
yang masih berstatus pinjaman dari UKM Mapala UNS, meskipun secara kondisi
memenuhi standar IRF untuk kategori R4 (zero gap). Kesenjangan
paling kritis adalah ketiadaan total sarana latihan fungsional berupa tiang
gawang slalom dan bouyan untuk latihan head-to-head, yang
secara fundamental menghambat latihan teknik lanjutan, manuver presisi, dan
strategi kompetitif. Peralatan keselamatan (helm, pelampung, dayung, throw
bag, flip line, rescue knife, dan peluit) menunjukkan zero gap
karena memenuhi standar IRF dan FAJI. Namun, terdapat minor gap
pada ketiadaan stopwatch, serta tidak adanya fasilitas medis langsung di
lokasi latihan.Hasil penelitian menunjukkan adanya hambatan dalam pembinaan atlet arung jeram, yang ditandai oleh
keterbatasan pengembangan teknik lanjutan serta rendahnya kesiapan kompetitif
atlet dalam menghadapi kejuaraan resmi tingkat daerah maupun nasional. Kondisi
ini berkaitan dengan belum tersedianya venue khusus arung jeram, serta
penggunaan venue bersama di Danau UNS yang sering mengalami konflik
jadwal. Selain itu, keterbatasan kepemilikan perahu karet dan sarana latihan
fungsional turut memengaruhi efektivitas proses pembinaan, sehingga
perkembangan atlet masih berada pada tahap dasar dan belum mencapai level
kompetitif sesuai standar nasional dan internasional.