Kualitas kopi merupakan faktor utama yang menentukan daya saing dan nilai jual di pasar domestik. Panen merupakan titik krusial yang menentukan kualitas kopi, di mana penerapan panen selektif seperti petik merah terbukti menghasilkan mutu biji yang lebih baik, bercita rasa khas, dan bernilai jual lebih tinggi dibandingkan panen serempak atau petik campuran. Kabupaten Temanggung merupakan sentra utama kopi robusta di Jawa Tengah dan sudah mendapatkan perlindungan Indikasi Geografis (IG). Penelitian ini bertujuan untuk, (1) menganalisis tingkat adopsi standar mutu panen kopi oleh petani kopi robusta di Kabupaten Temanggung, (2) mengukur tingkat knowledge sharing, pengetahuan, dan faktor motivasional petani dalam mengadopsi standar mutu panen kopi robusta di Kabupaten Temanggung, serta (3) menganalisis pengaruh knowledge sharing, pengetahuan, dan faktor motivasional petani terhadap praktik panen kopi robusta oleh petani. Metode dasar penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dan menyebarkan kuisioner penelitian. Analisis data menggunakan regresi linear berganda dengan program IBM SPSS Statistics 25. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Tingkat adopsi standar mutupanen oleh petani kopi berada pada kategori cukup sesuai standar sebanyak 44 responden. (2) Tingkat knowledge sharing berada pada kategori sedang dengan sebanyak 41 responden, tingkat pengetahuan berada pada kategori tinggi dengan sebanyak 47 responden, sedangkan tingkat faktor motivasional berada pada kategori tinggi dengan sebanyak 50 responden. (3) Hasil uji pengaruh knowledge sharing, pengetahuan, dan faktor motivasional petani terhadap praktik panen kopi robusta menunjukkan bahwa secara parsial, variabel pengetahuan berpengaruh signifikan positif terhadap praktik panen, yang membuktikan bahwa pemahaman teknis menjadi kunci perubahan perilaku. Sebaliknya, knowledge sharing berpengaruh signifikan negatif, mengindikasikan bahwa pertukaran informasi informal yang tidak tervalidasi di lapangan justru dapat mendistorsi standar mutu. Sementara itu, faktor motivasional tidak berpengaruh signifikan, karena dorongan internal petani masih terhambat oleh risiko produksi dan ketiadaan insentif ekonomi yang konkret. Secara simultan, ketiga variabel berpengaruh signifikan dengan nilai Adjusted R Square sebesar 0,076, menunjukkan bahwa 92,4% variasi praktik panen dipengaruhi oleh faktor lain di luar model.