Turfgrass berperan penting dalam ruang terbuka hijau perkotaan tidak hanya sebagai elemen estetika, tetapi juga dalam fungsi ekologis seperti penurunan suhu, stabilisasi tanah, dan peningkatan kualitas lingkungan. Stenotaphrum secundatum merupakan rumput tropis yang banyak digunakan sebagai turfgrass karena nilai estetika dan toleransi naungan yang baik, namun pertumbuhannya sering kurang optimal pada media bertekstur kasar akibat keterbatasan perkembangan perakaran. Media sedimen sungai umumnya memiliki daya ikat air dan kapasitas tukar kation yang rendah, sehingga memerlukan upaya perbaikan melalui penambahan bahan pembenah seperti zeolit untuk meningkatkan retensi air dan hara. Selain itu, aplikasi hormon auksin berpotensi merangsang pertumbuhan akar dan meningkatkan pertumbuhan vegetatif, sehingga kombinasi zeolit dan auksin diharapkan mampu mengoptimalkan pertumbuhan Stenotaphrum secundatum pada media tanam berpasir. Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan faktorial dengan faktor zeolit (0%, 5%, 10%) dan auksin (0; 10; 20; 30 mL/m2) yang diaplikasikan pada media sedimen sungai. Pengamatan yang dilakukan berupa pH, kapasitas tukar kation (KTK), kapasitas menahan air, N total, K tersedia, dan C organik, serta parameter pertumbuhan vegetatif berupa panjang daun, lebar daun, panjang akar, warna daun, kerapatan trubus, dan persentase penutupan. Percobaan dilaksanakan selama 10 bulan mulai Juni 2024 hingga Maret 2025. Tahapan penelitian meliputi pengambilan sampel rumput. persiapan media tanam, pembibitan, penanaman, aplikasi perlakuan, pemeliharaan, dan pengamatan parameter tanah serta pertumbuhan tanaman, baik di lapangan maupun laboratorium. Penanaman dilakukan di lahan percobaan yang terletak di Desa Kuwon, Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar.Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian zeolit dan hormon auksin memberikan dampak positif terhadap karakteristik media tanam dan pertumbuhan rumput Stenotaphrum secundatum meski tidak berpengaruh signifikan di semua parameter. Nilai tertinggi parameter KTK (12,23 cmol(+)/kg), kapasitas menahan air (37,77%), dan C Organik (0,44%) didapatkan dari interaksi pemberian zeolit 10% dan auksin 30 mL/m2 (Z2A3). Sementara nilai tertinggi N total (0,57%) dan K tersedia (0,35 cmol(+)/kg) didapatkan oleh interaksi pemberian zeolit 10% dengan auksin 20 mL/m2 (Z2A2). Perlakuan Z2A1 memberikan pertumbuhan panjang daun tertinggi (6,83 cm) dan lebar daun (0,73 cm). Panjang akar paling tinggi (18,33 cm) berada pada perlakuan Z2A3, sementara kerapatan trubus (16 trubus/30 cm2) dan persentase penutupan (47,05 %) didapat pada perlakuan Z1A1. Perlakuan yang memiliki skor warna tertinggi (4) adalah perlakuan Z0A0, Z0A2, dan Z2A1. Penelitian ini membuktikan bahwa pemberian zeolit dan hormon auksin mampu meningkatkan karakteristik media tanam sedimen sungai dan mendorong pertumbuhan rumput Stenotaphrum secundatum.