Material
penutup atap stadion yang paling sering digunakan dalam desain bangunan stadion
sekarang ini adalah membran, yang berupa bahan fiber tipis dengan struktur baja
sebagai elemen penguat dan pemberi bentuk atap. Selain atap bangunan tersebut,
bentuk bangunan stadion juga dapat menimbulkan naungan. Sehingga terdapat
beberapa turfgrass yang pertumbuhannya terganggu akibat adanya naungan
tersebut. Permasalahan tersebut dapat diminimalisir dengan pemberian hormon
auksin untuk mendukung pertumbuhan turfgrass. Oleh sebab itu,
penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan karakteristik dua jenis turfgrass
dengan perlakuan penggunaan naungan dan pemberian hormon auksin. Penelitian ini
menggunakan rancangan Split Plot dengan tiga faktor, yaitu naungan (tanpa naungan, paranet 50 %, dan paranet
70%), dosis pemberian hormon auksin (tanpa hormon auksin atau kontrol, dosis
35%, dosis 70%, dan dosis utuh atau 100% dosis), serta jenis rumput (Zoysia
matrella dan Zoysia japonica). Pelaksanaan penelitian dilaksanakan
selama 10 bulan, mulai bulan Mei 2023 sampai dengan bulan Februari 2024. Tahap
penelitian ini terdiri dari pengambilan sampel tanaman di lapangan, penanaman
di lahan percobaan, serta analisis sampel tanaman dan tanah di laboratorium.
Penanaman dilakukan di lahan percobaan milik Fakultas Pertanian Universitas
Sebelas Maret yang terletak di Desa Sukosari, Kecamatan Jumantono, Kabupaten
Karanganyar.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan
naungan berpengaruh sangat nyata terhadap semua parameter pengamatan, yaitu
kerapatan trubus, tinggi tanaman, warna daun, kadar klorofil daun, tekstur
daun, panjang akar, volume akar, pH tanah, DHL tanah, BV tanah, dan N-total
tanah. Perlakuan pemberian hormon auksin berpengaruh sangat nyata terhadap semua
parameter pengamatan. Perlakuan tanpa naungan dengan pemberian hormon
auksin 100% menunjukkan hasil terbaik
pada kerapatan trubus (151,0 trubus/25cm2), tinggi tanaman (13,00 cm),
panjang akar (23,454 cm),volume akar (10,36 cm3), pH tanah (6,98),
DHL tanah (0,273 dS/m), dan BV tanah (0,68 gr/cm3). Perlakuan
naungan 50?ngan hormon auksin 100% menunjukkan hasil terbaik pada kerapatan
trubus (85,4 trubus/25cm2), tinggi tanaman (21,78 cm), warna daun (3,4),
kadar klorofil daun (36,345 mg/g), tekstur daun (0,21 cm), panjang akar (14,376
cm),volume akar (4,28 cm3), pH tanah (6,83), DHL tanah (0,286 dS/m),
BV tanah (0,90 gr/cm3), dan N-total tanah (0,19%). Interaksi
perlakuan naungan, pemberian hormon auksin, dan jenis rumput berpengaruh sangat
nyata terhadap semua parameter pengamatan. Interaksi perlakuan naungan 70?n
pemberian dosis auksin 100% mampu meningkatkan kerapatan trubus, tinggi
tanaman, warna daun, kadar klorofil daun, tekstur daun, panjang akar, dan
volume akar pada Zoysia matrella dan Zoysia japonica. Pada
lingkungan dengan tingkat naungan 50?n pemberian hormon auksin 100%
menunjukkan hasil pertumbuhan yang lebih baik jika dibandingkan dengan
lingkungan ternaungi 70%. Selain itu, pada penelitian ini membuktikan bahwa Zoysia
matrella lebih toleran pada cekaman naungan dibandingkan dengan Zoysia
japonica pada semua aspek parameter pengamatan pertumbuhan tanaman.