Patrisia Furi Andanawarih. H0822113. “Optimalisasi Penggunaan Faktor-Faktor
Produksi pada Usahatani Jagung di Kabupaten Grobogan”. Dibimbing oleh Dr. Wiwit
Rahayu, S.P., M.P. dan Dr. Setyowati, S.P., M.P.. Fakultas Pertanian Universitas
Sebelas Maret Surakarta.
Produksi jagung di Indonesia terus mengalami peningkatan seiring dengan
perannya sebagai komoditas strategis dalam mendukung ketahanan pangan dan
perekonomian nasional. Kabupaten Grobogan menjadi sentra produksi jagung terbesar
di Jawa Tengah, namun besarnya luas panen tidak selalu diikuti dengan optimalisasi
penggunaan faktor produksi. Penggunaan input seperti lahan, benih, tenaga kerja,
pupuk kimia, dan pestisida masih menunjukkan ketidaksesuaian dengan kebutuhan
optimal, sehingga produktivitas jagung belum mencerminkan potensi daerah yang
sebenarnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar biaya produksi, penerimaan, dan
pendapatan usahatani jagung di Kabupaten Grobogan, menganalisis pengaruh faktor
faktor produksi terhadap hasil produksi jagung serta mengukur tingkat optimalisasinya.
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, dengan lokasi dipilih
secara purposive di Kecamatan Pulokulon dan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan.
Sampel penelitian ditentukan menggunakan metode quota sampling yang melibatkan
60 responden petani jagung, dengan data yang dianalisis menggunakan regresi fungsi
produksi Cobb-Douglass serta perhitungan optimalisasi melalui rasio nilai produk
marginal (NPM) terhadap harga input (Pxi).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya total usahatani jagung mencapai
Rp6.092.953,22 per hektare per masa tanam, dengan pendapatan Rp18.480.730,99 per
hektare per masa tanam. Luas lahan dan benih berpengaruh positif dan signifikan
terhadap produksi jagung. Sebaliknya, tenaga kerja, pupuk kimia, dan pestisida tidak
memberikan pengaruh signifikan terhadap hasil produksi. Analisis optimalisasi
menunjukkan bahwa penggunaan luas lahan dan jumlah benih masih belum optimal
sehingga perlu ditingkatkan. Petani perlu meningkatkan penggunaan luas lahan dan
jumlah benih agar hasil produksi lebih optimal. Selain itu, penggunaan tenaga kerja,
pupuk kimia, dan pestisida perlu dikurangi agar lebih optimal