Orang tua anak berkebutuhan khusus dituntut untuk memenuhi kebutuhan dasar anak, tuntutan finansial, fisik, dan emosional sehingga orang tua dapat lebih rentan mengalami stres pengasuhan. Terdapat dua faktor yang diperkirakan dapat menjadi faktor protektif stres pengasuhan, yaitu resiliensi dan kecerdasan emosional. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan secara parsial dan simultan antara variabel resiliensi dan kecerdasan emosional dengan stres pengasuhan pada orang tua anak berkebutuhan khusus di Surakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan melibatkan 114 orang tua ABK sebagai partisipan. Pengambilan partisipan dilakukan menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dan luring (Google Form dan kuesioner cetak) yang berisi skala Parenting Stress Index–Short Form (PSI-SF), Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC 25), serta skala kecerdasan emosional. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan resiliensi dan kecerdasan emosional dengan stres pengasuhan berhubungan secara signifikan dan berkontribusi sebesar 7,3% terhadap stres pengasuhan (F=4,37, p=0,015). Selanjutnya, resiliensi tidak memiliki hubungan signifikan dengan stres pengasuhan (b=0,051, p=0,767). Sebaliknya, kecerdasan emosional berhubungan negatif signifikan dengan stres pengasuhan dan memberikan kontribusi sebesar 7,2% terhadap stres pengasuhan (b=-0,415, p=0,012). Temuan ini menunjukkan bahwa kecerdasan emosional berperan penting dalam membantu orang tua mengenali dan mengelola emosi serta membangun hubungan interpersonal yang lebih adaptif dalam proses pengasuhan. Sementara itu, resiliensi tidak berhubungan secara langsung dengan stres pengasuhan, tetapi tetap berperan ketika dikombinasikan dengan kecerdasan emosional dalam membantu orang tua menghadapi tekanan pengasuhan secara lebih adaptif.