Mengasuh anak berkebutuhan khusus (ABK) seringkali memunculkan tingkat stres pengasuhan yang tinggi pada orang tua akibat tuntutan emosional, perilaku anak yang kompleks, dan keterbatasan dukungan sosial. Welas diri (self compassion) dan efikasi diri pengasuhan (parenting self efficacy) diduga menjadi dua faktor protektif yang dapat menurunkan stres tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara welas diri (self compassion) dan efikasi diri pengasuhan (parenting self efficacy) dengan stres pengasuhan (parenting stress) pada orang tua anak berkebutuhan khusus (ABK) di Surakarta. Partisipan berjumlah 114 orang tua (73 perempuan, 41 laki-laki) anak berkebutuhan khusus yang terdaftar di lima Sekolah Luar Biasa (SLB) di Surakarta, dipilih melalui purposive sampling. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pengumpulan data melalui tiga instrumen skala Likert, yaitu Parenting Stress Index - Short Form (PSI-SF), Self-Compassion Scale-Short Form (SCS-SF), dan Self Efficacy for Parenting Tasks Index (SEPTI). Analisis data dilakukan dengan regresi linear berganda. Hasil analisis menunjukan welas diri berhubungan negatif signifikan dengan stres pengasuhan (koefisien regresi = -0,288; p = 0,041), efikasi diri pengasuhan tidak signifikan secara parsial (p = 0,088), namun secara simultan kedua variabel signifikan memprediksi stres pengasuhan (F = 9,79; P < 0,001; R² = 0,150). Kesimpulan penelitian ini terdapat hubungan negatif antara welas diri dan efikasi diri pengasuhan dengan stres pengasuhan pada orang tua anak berkebutuhan khusus. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi referensi untuk pengembangan psikologis bagi orang tua anak berkebutuhan khusus.