Jepang adalah negara yang kaya akan budaya. Budaya Jepang tidak pernah luntur seiring berjalannya waktu dan tetap bertahan di tengah perkembangan teknologi yang semakin maju. Mempertahankan sebuah budaya sendiri tentu sangatlah penting, namun mempelajari budaya lain untuk menyadarkan pentingnya budaya sendiri juga diperlukan. SMA N 7 Solo mengadakan Festival Jepang tiap tahunnya untuk memberikan wadah bagi para penggemar kebudayaan Jepang di Kota Solo dan sekitarnya berkumpul dan menikmati acara kebudayaan Jepang. Serta sebagai pengingat bahwa budaya seharusnya dijaga dan dilestarikan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui strategi komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh organisasi “Keiran” SMA N 7 Solo dalam memperkenalkan keanekaragaman tradisi Festival Jepang. Peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan purposive sampling yaitu dengan wawancara dan observasi dokumentasi. Informan dalam penelitian ini adalah 7 orang, terdiri dari 4 panitia inti Keiran-fest, dan 3 lainnya adalah pengunjung aktif Festival Jepang di Solo. Analisa data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini merujuk pada teori dari Patrick De Pelsmacker, Maggie Geuens, dan Joeri Van den Bergh dalam bukunya Marketing Communications A European Perspective. Terdapat elemen-elemen penting yang dinamakan marketing mix, meliputi product, price, distribution, dan promotion (komunikasi pemasaran). Penggunaan strategi komunikasi pemasaran ini merujuk pada elemen terakhir yaitu promotion mix. Komunikasi pemasaran yang dilakukan Keiran menggunakan 2 cara, yaitu dengan promotion mix dan memfokuskan pada PR Publisitas dimana mengundang bintang tamu yang sudah cukup terkenal untuk menarik antusias pengunjung. Promotion mix yang dilakukan adalah periklanan, promosi penjualan, publisitas, dan penjualan tatap muka. Serta adanya pengaruh dari mulut ke mulut. Kata Kunci: Jepang Festival, komunikasi pemasaran, eksistesi, bauran promosi.