PENGARUH
PEMBERIAN EKSTRAK BAWANG MERAH DAN EKSTRAK REBUNG TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN
JAGUNG PULUT (Zea mays L.
var. ceratina). Skripsi: Dwi Muhammad Andika (H0721045).
Pembimbing: Prof. Dr. Ir. Edi Purwanto, M.Sc., Dr. Ir. Muji Rahayu, S.P., M.P.,
Gani Cahyo Handoyo, S.P., M.Si. Program Studi Agroteknologi, Fakultas
Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Jagung pulut (Zea mays L. var. ceratina) merupakan
salah satu jenis jagung yang memiliki karakter spesial, yaitu pati dalam bentuk
100% amilopektin memiliki rasa manis, pulen, dan penampilan menarik yang tidak
dimiliki jagung lain sehingga banyak digemari oleh masyarakat. Sebagai sumber
karbohidrat kedua setelah beras, jagung memegang peranan penting sebagai bahan
pangan di Indonesia. Peningkatan kebutuhan jagung dalam beberapa tahun terakhir
ini tidak sejalan dengan peningkatan produksi dalam negeri. Zat pengatur tumbuh
(ZPT) merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan
produktivitas tanaman jagung. ZPT berperan penting dalam mengoptimalkan proses
fisiologis tanaman, termasuk mempercepat perkecambahan, pertumbuhan akar, dan
perkembangan vegetatif. Bahan yang bersumber dari alam dan dapat dimanfaatkan
sebagai ZPT yaitu ekstrak bawang merah dan rebung. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan interaksi antara ekstrak
bawang merah dan ekstrak rebung dalam menentukan konsentrasi yang dapat
mendukung pertumbuhan tanaman jagung pulut, serta untuk mendapatkan konsentrasi
ekstrak bawang merah dan rebung yang dapat mendukung pertumbuhan tanaman jagung
pulut. Penelitian dilakukan di Desa Jati, Kecamatan Jaten, Kabupaten
Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, pada Oktober 2024-Januari 2025. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok
Lengkap (RAKL) faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama adalah ekstrak
bawang merah dengan 3 taraf: B0 (tanpa pemberian ekstrak bawang merah), B1
(pemberian ekstrak bawang merah 15 g.L⁻¹), B2
(pemberian ekstrak bawang merah 30 g.L⁻¹). Faktor kedua
adalah ekstrak rebung dengan 4 taraf: R0 (tanpa pemberian ekstrak rebung), R1
(pemberian ekstrak rebung 10 g.L⁻¹), R2
(pemberian ekstrak rebung 20 g.L⁻¹), R3
(pemberian ekstrak rebung 30 g.L⁻¹). Data dianalisis menggunakan ANOVA
jika terdapat perbedaan dilanjut uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT)
pada taraf 5%. Selanjutnya, dilakukan analisis korelasi
untuk mengetahui hubungan antar variabel pengamatan.
Hasil penelitian menunjukkan pemberian kombinasi ekstrak
bawang merah dan ekstrak rebung pada berbagai konsentrasi belum mampu meningkatkan
pertumbuhan tanaman jagung pulut. Pemberian ekstrak bawang merah pada
konsentrasi 15 g.L⁻¹ dan 30 g.L⁻¹ mampu meningkatkan pertambahan jumlah daun pada umur 5 dan 6 MST,
namun belum mampu meningkatkan pertambahan jumlah daun pada akhir pengamatan
pertumbuhan tanaman jagung pulut (8 MST). Pemberian ekstrak rebung pada
konsentrasi 10 g.L⁻¹, 20 g.L⁻¹, dan 30 g.L⁻¹ belum mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pulut. Berdasarkan
hasil uji korelasi, tinggi tanaman menunjukkan korelasi positif rendah dengan
jumlah daun dan diameter batang, sedangkan jumlah daun menunjukkan korelasi
positif sedang dengan diameter batang. Bobot segar dan bobot kering brangkasan,
bobot kering tajuk, serta bobot kering akar menunjukkan korelasi positif sangat
kuat satu sama lain. Sementara itu, rasio tajuk–akar menunjukkan korelasi
negatif kuat dengan bobot kering akar.