Bawang
merah (Allium cepa L.) merupakan komoditas hortikultura penting dengan
nilai ekonomi tinggi, namun produktivitasnya pada tanah Entisol masih terbatas
karena kesuburan yang rendah. Jenis tanah ini, yang tersebar luas di Indonesia
sekitar 3 juta hektar, memiliki tekstur berpasir, bahan organik rendah, serta
KTK yang kecil sehingga kurang mendukung pertumbuhan tanaman. Biochar dari
tongkol jagung, baik dalam bentuk serbuk maupun ekstrak, berpotensi memperbaiki
sifat kimia tanah melalui peningkatan pH, C-organik, KTK, serta unsur hara N,
P, dan K. Penelitian ini bertujuan mengkaji
efek jangka panjang dari kedua bentuk biochar tersebut, guna mengetahui bentuk
mana yang memberikan pengaruh residu paling positif dan berkelanjutan bagi
sistem pertanian di lahan marginal Entisol. Penelitian
dilakukan di Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret dengan rancangan
acak lengkap (RAL) factor tunggal yaitu bentuk biochar (ekstrak dan serbuk)
dengan 9 perlakuan dan 3 ulangan. Parameter yang diamati meliputi sifat tanah
(pH, C-organik, KTK, N-total, P-tersedia, K-tersedia, C-biomassa mikroba), serapan hara (N, P, K), serta pertumbuhan dan hasil
tanaman (tinggi, jumlah daun, berat segar umbi, jumlah umbi, diameter umbi).
Data dianalisis menggunakan ANOVA, uji DMRT dengan taraf kepercayaan 95%, dan uji
korelasi pearson. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa residu biochar tongkol jagung dalam bentuk ekstrak
maupun serbuk berpengaruh terhadap seluruh parameter sifat kimia tanah Entisol,
serta pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah. Residu biochar serbuk
dosis 40 g/pot atau 20t/ha (BS4) menunjukkan peningkatan 12,7% pH tanah, 155,3%
C-organik, 63,8% KTK, 114,8% N-total, 44,7% P-tersedia, 943,9% K-tersedia,
51,9% tinggi tanaman, 45,8% jumlah daun, 81,0% berat umbi segar, 150% jumlah
umbi, dan 104,4% diameter umbi dibandingkan kontrol (B0)
Kata kunci: Entisol, Biochar ekstrak, Biochar serbuk, Bawang merah.