Perkembangan sistem kerja yang semakin kompleks menuntut manusia untuk memproses informasi dan mengambil keputusan secara cepat, sehingga meningkatkan beban kerja mental, terutama pada aktivitas yang tidak memiliki struktur tugas yang jelas. Kondisi ini juga terjadi pada aktivitas perakitan kursi knock-down dalam praktikum, di mana praktikan harus mengandalkan ingatan untuk menentukan urutan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan struktur tugas berbasis Hierarchical Task Analysis (HTA) terhadap beban kerja mental pada aktivitas tersebut. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain within-subject yang melibatkan 19 responden yang menjalani dua kondisi, yaitu perakitan tanpa struktur tugas dan perakitan dengan penerapan HTA. Pengukuran beban kerja mental dilakukan menggunakan NASA Task Load Index (NASA-TLX), kemudian data dianalisis melalui uji normalitas Shapiro-Wilk, uji paired sample t-test, serta perhitungan effect size menggunakan Cohen’s d. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan HTA menurunkan rata-rata beban kerja mental dari 81,25 (kategori sangat berat) menjadi 76,84 (kategori berat), dengan selisih sebesar 4,40. Hasil uji statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (p < 0,05), dengan nilai effect size sebesar 0,89 yang termasuk kategori besar. Temuan ini menunjukkan bahwa penyusunan struktur tugas yang sistematis mampu membantu mengurangi tuntutan kognitif dalam aktivitas perakitan, meskipun penurunan yang dihasilkan masih terbatas. Oleh karena itu, pengembangan instruksi kerja yang lebih komprehensif, seperti integrasi dengan media visual, diperlukan untuk meningkatkan efektivitas dalam menurunkan beban kerja mental.