Batik Magelang merupakan batik generasi awal dan baru, mulai berkembang sekitar tahun 2010 melalui program pelatihan. Motifnya terinspirasi dari identitas lokal, salah satunya adalah batik motif Kebonpolo yang terinspirasi dari tumbuhan pala. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur dan komposisi visual serta kesan estetis pada batik motif Kebonpolo baik dari sketsa dasar maupun karya dari pengrajin batik di Kota Magelang, yaitu Iwing Batik, Naris Batik, dan Sekar Batik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan formalisme dalam desain. Analisis ini dilakukan berdasarkan teori dari Wicius Wong (1993) yang terdiri dari elemen desain, prinsip desain, serta struktur komposisi untuk menganalisis struktur visual motif batik Kebonpolo. Pendekatan ini juga didukung oleh teori estetika significant form dari Clive Bell (2005) untuk memahami kesan estetis yang ditimbulkan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, pengamatan, dokumentasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motif Kebonpolo memiliki unsur berupa buah pala, daun, tangkai yang didominasi oleh garis lengkung organik, repetisi, variasi ritme, keseimbangan, dan kontras yang berbeda setiap pengrajin. Secara estetis, batik motif Kebonpolo memberikan kesan dinamis, harmonis, dan teratur. Oleh karena itu, motif batik Kebonpolo tidak hanya sebagai karya tekstil yang dinikmati keindahan visualnya, tetapi juga sebagai karya tekstil yang terbangun dari hubungan unsur-unsur desain, sehingga mampu membangun karakter estetis dan identitas lokal Kota Magelang. Penelitian ini memberikan pengetahuan mengenai analisis unsur desain melalui pendekatan formalisme yang mampu menjabarkan struktur dan komposisi visual teratur, mulai dari elemen pembentuk hingga hubungan antarunsur dalam suatu komposisi. Selanjutnya, penerapan repetisi (pengulangan) dan ragam komposisi pada setiap pengrajin menciptakan karaktervisual yang berbeda meskipun berasal dari motif dasar yang sama.