Suhu permukaan tanah di Kota Surakarta meningkat setiap tahun hal tersebut berdampak pada ketidaknyamanan termal bagi masyarakat Kota Surakarta. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Menganalisis tingkat suhu permukaan tanah di Kota Surakarta tahun 2017 - 2025 (2) Menganalisis tingkat kenyamanan termal di Kota Surakarta tahun 2017 - 2025 (3) Menyusun arahan mitigasi dalam mengurangi tingkat suhu permukaan tanah di Kota Surakarta guna mendukung kota layak huni. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif, dengan menggunakan Citra Landsat 8 OLI/TIRS dengan analisis NDVI, LST, MNDWI, dan MTHI. Pengumpulan data dilakukan dengan interpretasi citra, wawancara, dan studi literatur. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik stratified random sampling dan purposive sampling. Teknik uji validasi menggunakan uji ketelitian citra conffusion matrix dan accuracy kappa. Hasil penelitian ini yang Pertama suhu permukaan tanah di Kota Surakarta mengalami peningkatan dari tahun 2017 hingga 2025 dengan suhu tertinggi mencapai 41,9 °C. Kawasan industri tercatat memiliki suhu terendah dibandingkan kawasan lainya selama periode tersebut. Kedua, dinamika kenyamanan termal periode tahun 2017 – 2025 pada kategori hampir nyaman. Pada tahun 2017 dan 2022 hasil penelitian kenyamanan termal mendukung penelitian IAPI yang menyatakan Kota Surakarta sebagai kota paling layak huni di Indonesia. Ketiga, upaya mitigasi disusun berdasarkan tingkat suhu permukan tanah di setiap kawasan. Upaya mitigasi berupa pagar hijau, atap hijau, atap reflektif, trotoar terang, dan parkiran bervegetasi. Pemerintah Kota Surakarta perlu menyusun kebijakan upaya mitigasi guna menurukan tingkat suhu permukaan tanah dan mendukung Kota Surakarta sebagai kota paling layak huni di Indonesia.