Era BANI
merupakan gambaran dunia modern saat ini yang ditandai dengan Brittle (rapuh),
Anxious (cemas), Nonlinear (tidak linear), dan Incomprehensible
(sulit dipahami) yang berdampak pada beberapa aspek termasuk pendidikan
tinggi. Tuntutan adaptasi di era BANI juga dirasakan oleh mahasiswa yang
ditandai dengan perubahan cepat, kompleksitas, dan ketidakpastian sehingga
learning agility menjadi kompetensi penting bagi mahasiswa. Hipotesis
penelitian ini adalah terdapat hubungan signifikan antara growth mindset dan
learning agility, self-efficacy dan learning agility, serta growth mindset dan
self-efficacy secara simultan dengan learning agility. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan partisipan sebanyak 148
mahasiswa aktif perguruan tinggi di Surakarta yang dipilih menggunakan teknik
purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner daring
menggunakan Learning Agility Self-Assessment (LAS-A), item growth
mindset yang diambil dari Mindset Scale, dan General
Self-Efficacy Scale (GSES). Data dianalisis menggunakan regresi linear
berganda dan Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa growth
mindset memiliki hubungan signifikan dengan learning agility (t = 3,292; p =
0,001; r = 0,524) dengan kekuatan hubungan sedang. Self-efficacy juga memiliki
hubungan signifikan dengan learning agility (t = 8,235; p = 0,000; r = 0,684)
dengan kekuatan hubungan kuat. Secara simultan, growth mindset dan
self-efficacy memiliki hubungan signifikan dengan learning agility (F = 74,101;
p = 0,000; R = 0,711; R² = 0,505). Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin
tinggi growth mindset dan self-efficacy mahasiswa, maka semakin tinggi pula
learning agility yang dimiliki. Penelitian ini berimplikasi pada pentingnya
pengembangan growth mindset dan self-efficacy sebagai strategi untuk
meningkatkan learning agility mahasiswa.