Latar Belakang: Epilepsi sebagai salah satu penyakit saraf kronis pada anak dipercaya
memiliki dampak pada penurunan kualitas hidup pasien. Adanya gangguan
neurologis dan tumbuh kembang, ditambah pula stigma yang buruk dari masyarakat
terhadap pasien epilepsi dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan pasien
mencakup aspek fisik, emosional, kognitif, dan keadaan sosial. Banyak faktor
yang terlibat pada kualitas hisup pasien epilepsi anak, baik dari keadaan
klinis pasien maupun keadaan demografis keluarga seperti pendapatan orang tua,
pendidikan orang tua, jumlah anak, dan usia orang tua. Dengan memahami
kualitas hidup pasien epilepsi, bisa menuntun dalam pembuatan keputusan
tatalaksana yang akan dilakukan. Melihat latar belakang tersebut penulis
tertarik untuk mengetahui dan meneliti mengenai pengaruh tingkat pendidikan dan
pendapatan orang tua terhadap pasien epilepsi anak dengan
menggunakan kuisioner PedsQL untuk mengukur kualitas hidup pasien. Metode: Penelitian
yang dilakukan merupakan jenis penelitian observasional analitik dengan
pendekatan potong lintang. Sampel merupakan pasien epilepsi yang melakukan pemeriksaan
di poli saraf anak Cempaka
RSUD Dr. Moewardi
Surakarta. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode consecutive
sampling dengan
jumlah sampel 50 orang. Data kemudian dianalisis dengan analisis bivariat
berupa uji korelasi Spearman dan
analisis multivariat uji regresi linier berganda. Hasil: Pasien epilepsi anak sebagian besar (66.0%) memiliki kualitas hidup yang
rendah. Namun pengaruh tingkat pendidikan dan pendapatan orang tua dinyatakan
tidak signifikan secara statistik (p = 0.961, p = 0.281). Simpulan: Tingkat pendidikan dan pendapatan
orang tua tidak berpengaruh terhadap kualitas hidup pasien epilepsi anak.
Kata
Kunci: Epilepsi,
Kualitas Hidup, Pendidikan Orang Tua, Pendapatan Orang Tua