Dominasi digitalisasi mendorong pergeseran perilaku konsumsi masyarakat menuju
platform digital, sehingga berdampak pada menurunnya eksistensi toko buku fisik dan ruang
budaya membaca. Di tengah kondisi tersebut, keberadaan Victory Komik di Kota Surakarta
menjadi fenomena menarik karena mampu bertahan sebagai ruang konsumsi alternatif berbasis
buku bekas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola perilaku konsumsi pelanggan,
mengidentifikasi dimensi internal dan eksternal yang memengaruhi konsumsi, serta
menganalisis dampak dan hambatan konsumsi buku bekas di tengah dominasi digital. Teori
yang digunakan merupakan teori nilai lebih konsumsi barang bekas dari Adrienne Steffen
untuk mengkaji motivasi konsumsi, serta teori masyarakat konsumsi Jean Baudrillard untuk
memahami konteks konsumsi dalam era digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif
dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara
mendalam, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan
Huberman, dan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Sampel yang
digunakan sebanyak 8 informan, terdiri dari pelanggan lama Victory Komik, pelanggan baru
Victory Komik, pemilik toko Victory Komik, dan individu dengan preferensi membaca e-book.
Pada penelitian ini, validitas data yang digunakan menggunakan teknik triangulasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku konsumsi pelanggan di Victory Komik
merupakan bentuk konsumsi alternatif yang tidak hanya didasarkan pada kebutuhan
fungsional, tetapi juga pada nilai otentisitas, pengalaman, dan interaksi sosial. Dimensi internal
meliputi motivasi individu dan nostalgia, sedangkan dimensi eksternal meliputi motivasi sosial
dan ekologis. Praktik konsumsi ini juga membentuk ruang budaya yang memungkinkan
terciptanya relasi sosial dan pengalaman membaca yang lebih bermakna. Selain itu, keberadaan
Victory Komik dapat dipahami sebagai bentuk resistensi terhadap logika konsumsi digital yang
instan dan homogen. Namun, praktik ini juga menghadapi hambatan berupa keterbatasan ruang
fisik dan menurunnya minat akibat kemudahan akses digital.