Industri tembakau sangat bergantung pada kualitas bahan baku, khususnya pada
tahap penerimaan yang berpotensi menimbulkan variasi mutu dan risiko kualitas.
Penerimaan bahan baku dengan kadar air tinggi dapat meningkatkan defect serta
menimbulkan kerugian kualitas (quality loss) yang berdampak pada biaya
operasional. Oleh karena itu, diperlukan pengendalian kualitas yang sistematis
untuk meminimalkan risiko tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
pengendalian kualitas pada proses penerimaan bahan baku tembakau grade C di
Gudang RAM Lungge menggunakan metode Six Sigma serta mengidentifikasi
besarnya quality loss melalui pendekatan Cost of Poor Quality (COPQ). Metode
yang digunakan adalah Six Sigma dengan tahapan DMAIC (Define, Measure,
Analyze, Improve, Control) yang dikombinasikan dengan analisis COPQ. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai DPMO sebesar 25.561,12 dengan
level sigma sebesar 3,46, yang mengindikasikan bahwa kapabilitas proses masih
berada pada tingkat rata-rata. Analisis Pareto menunjukkan bahwa defect dominan
adalah kadar air tinggi (47,26%) dan jamur (32,36%) dengan kontribusi total
sebesar 79,62%. Perhitungan COPQ menunjukkan bahwa defect kadar air tinggi
dan jamur menimbulkan biaya tambahan yang signifikan terhadap proses rekondisi.
Berdasarkan analisis FMEA, diperoleh tiga prioritas perbaikan utama yaitu
penerapan quality gate, penggunaan alat ukur kadar air (moisture meter), serta
perbaikan sistem penyimpanan melalui penerapan FIFO dan pengendalian kondisi
gudang. Usulan perbaikan ini diharapkan dapat menurunkan tingkat defect,
meningkatkan kapabilitas proses, serta meminimalkan quality loss secara
berkelanjutan.