Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana identitas gender terbentuk di Pondok
Pesantren Mahasiswa Roudhotul Jannah Surakarta. Fokusnya mencakup pemahaman
santri terhadap konsep identitas gender, cara proses pembentukan identitas
tersebut terjadi, dampak yang timbul dari konstruksi gender tersebut, serta
cara santri beradaptasi atau menghadapi konstruksi gender yang ada. Penelitian
ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi.
Informan dalam penelitian ini terdiri dari para guru, pengurus, serta santri
laki-laki dan perempuan yang dipilih dengan metode purposive sampling. Data
diperoleh melalui wawancara mendalam, pengamatan, dan pencatatan dokumen, lalu
dianalisis dengan metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA).
Penelitian ini menggunakan teori performativitas gender Judith Butler sebagai
alat untuk menganalisis. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa identitas gender
di pesantren dibentuk berdasarkan pemahaman bahwa perempuan diharapkan
berperilaku lembut, sopan, dan berperan sebagai pendukung, sementara laki-laki
ditetapkan sebagai pemimpin dan tokoh utama dalam lingkungan publik. Konstruksi
itu dibuat dengan membagi ruang, mengatur sifat baju, serta sistem pengawasan
dan pemberian hukuman yang dilakukan terus-menerus. Dampaknya terasa dari
pengurangan ruang untuk bergerak dan berekspresi perempuan. Meskipun begitu,
santri bukan hanya menerima pengaruh gender, tetapi juga melakukan penyesuaian,
adaptasi, dan menegosiasikan identitas mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Temuan ini menunjukkan bahwa identitas gender di pesantren dibentuk oleh proses
sosial yang terus berlangsung melalui tindakan-tindakan yang dilakukan secara
rutin.